Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

Smanghar, Smangkok!

Berhubung orangnya udah nanyain, dan sepertinya terlampau tidak sabar,



Tidak mudah. Ya, itu pasti. But again, you'll never be on your walk alone heading towards your weakness, I should say. Yes, since lack of support is the only weakness you have, I promise that you will never deal with it even for once. We will be right behind your back, always.

Back then, I'll try not to mislay your trust. As a friend, and as a partner. I'm not going anywhere.

Bismillahirrahmanirrahiim, untuk KOMPeK 16 yang lebih baik.

Smangkok, Pak PO,

Haryo Pangestu!


Senin, 04 Maret 2013

Move!

Bismillahirrahmanirrahiim.

Untuk Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEUI 2013.
Untuk 7th National Folklore Festival.
Untuk Maker FEUI 2013.
Untuk musyawarah KOMPeK 16.
Untuk Sinofest UI 2013.
Untuk Student Research Days FEUI 2013.
Untuk sahabat-sahabat yang setia di sisi.
Untuk almamater sekolah nomor satu di kota patriot.
Untuk almamater makara abu-abu kampus kuning tercinta.
Untuk mama dan papa.
Untuk Bangsa Indonesia.
Untuk Tuhan Yang Satu, Allah SWT.

"Maka bergerak adalah sebuah keniscayaan."

Selasa, 19 Februari 2013

Terima Kasih

Terkadang, tidak mengerti mengapa Allah sebaik ini. Sungguh Dia tidak pernah mengambil sesuatu kecuali untuk menggantinya dengan yang lebih baik. Rasanya sudah terlalu banyak hutang.

Rasanya, Ia satu-satunya yang tidak pernah pergi.

Allah, terima kasih. Terima kasih karena satu lagi mimpiku yang atas izin dan ridho-Mu dapat kuwujudkan. Sekarang Hazna punya keluarga baru. Ya,

Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEUI 2013.


Selasa, 12 Februari 2013

Pengalihan

Besok gue interview BEM.


--

Gue baca ulang esai motivasi diri yang sebenernya udah terlanjur gue kirim. Dan gue mulai berpikir, sejak kapan gue berubah menjadi seseorang yang bukan pemikir? Hidup gue sekarang cuma diisi sama kuliah, kepanitiaan, kuliah, kepanitiaan. Kapan waktu gue mikirin orang lain? Gila, gue gak kebayang sama sekali gimana jadinya kalo gue bener-bener gak keterima kastrat. Selama empat tahun, atau mungkin seterusnya, yang mungkin akan mengisi otak gue cuma diri gue sendiri. Dan gue gak mau. Tuhan, tolong.... I'm here, already. Don't let me lose myself.


Oke.


Di luar kegalauan gue soal besok, I cannot prevent myself from listening to this song over and over.

Glee - Let Me Love You

Ada gak sih cewe yang gak melting kalo dinyanyiin beginian pake....piano? HAH. Rizky Alfiandri, tanggung jawab.

This song below is the otherwise.

The Script - Hall of Fame

Gak tau harus makasih gimana lagi sama yang bikin ini lagu. This one never fails me, even for once. Spirit gue kayak ke-recharge lagi gitu kalo dengerin ini tiap kali mulai capek.

Yah, apapun yang gue tulis sebenernya cuma buat mengalihkan pikiran gue dari interview besok. Deg-degan, asli. Fix malem ini nyampahin Adnil, semoga sinyal Polandia mendukung.

Well, wish me luck, people!

Senin, 14 Januari 2013

Yosh!

Hupla! Time's up! Tinggal satu matkul lagi yang belum keluar. Tadi sudah ditelpon mama. Dan saya sudah lega. Begonya, saya malah menegaskan janji saya yang lalu. Tapi beliau seneng sih. Yaudahlah. Maaf ya gak jelas.............

Acara di tempat magang juga besok udah masuk H-2. Gak kebayang lah sibuknya kayak gimana, saya aja sampai nginep di kostan. Apalagi pas H-1 saya gak memungkinkan buat ke Depok, berhubung nganterin Adnil ke airport buat ke Polland. Mehehehehehe.

Ih kok jadi pengen cerita soal Adnil! Aneh deh, semalam saya mimpi gituuu tapi kabur gitu mimpinya. Yang jelas ada Adnil-nya. Nah, bangun-bangun saya sama sekali gak kepikiran apa-apa. Kayak amnesia sesaat gitu loh... Sejenak saya mikir hari ini saya lagi libur sekolah. Sekolah ya, bukan kuliah. Terus siangnya saya mau dijemput Adnil buat nyampah di Smansasi. Sampai akhirnya saya benar-benar sadar, hari ini kan saya lagi libur kuliah. Dan saya harus cepet mandi kalo gak mau telat berangkat kerja. Seketika saya lemas.

Nggak tau kenapa tapi kangen banget sama Adnil. Bukan cuma Adnil, tapi juga Iky. Tiara juga. Uta juga. I miss my Dhrs :( terus gak tau gimana juga, saya tiba-tiba jadi super sensitif gitu. Tadi aja denger lagu Butiran Debu langsung berkaca-kaca kebayang SMI udah mau pisah. Denger Catcher In The Rye-nya Guns N' Roses keinget Ito. Dan itu semuanya bikin pengen nangis.

Semangat saya juga naik turun hari ini. Mulai tadi pagi, yang rasanya bener-bener gak ada semangat hidup. Ogah-ogahan ke kampus (segala dumel ke Uta jalanan macet pas gak kedapetan tempat duduk, bawaan banyak, dan harus berdiri di bis), muka cemberut, sampai akhirnya naik jembatan layang dan ketemu banyak peminta-minta. Terus saya semangat lagi (?) Note that mereka itu salah satu alasan kenapa gue harus hidup, dan kenapa gue harus bersyukur. Terus saya sampai tempat kerja. Terus saya kerja, semangat gitu. Atasan saya sampai bingung tiap kali merintah apa ternyata udah saya kerjain semua, HOHOHOHO. Terus masih semangat sampai sekarang.

Terus tadi liat Kastrat di web BEM! Please ya akhirnya...... saya menemukan jalan menjadi diri saya yang dulu—diri saya yang dikenal Ical dan Rafif, berhubung mereka yang paling banyak denger curhatan saya soal negara. Terus Rafif mau ke Tokyo ya plis banget. Dia masih maba dan udah kepilih jadi delegasi buat international moot court competition gitu. Cool gak sih. Rasanya saya sama sekali belum ngapa-ngapain kalau dibanding Adnil atau Rafif. Anggaplah dari segi non akademik, they do nail it. Terus pindah yuk ke segi akademik, di bagian itu sudah ada Utari. Sahabat gue itu.... mahasiswi FTI ITB itu....... IP semester pertamanya, 4. Bulet. Em-pat. Dan itu dia buka pake laptop gue, di sebelah gue, setelah sebelumnya ngarep kebaikan hati Yang Di Atas dengan bersuara "Tiga aja deh ya, Allah. Tiga aja."

Terus tiba-tiba dia nunduk.

Terus gue langsung rebut laptop gue.

Terus gue kalang kabut nyari di mana final GPA-nya.

Terus gue menemukan angka 4.

Sialan. Satu semester, saudara-saudara. Satu semester dia mengeluh ke gue bilangnya gak bisa gak bisa. Terus apa itu IP 4???????

Nah, hari itu. Gue gak bisa lebih seneng lagi dibanding hari itu. I'm really happy, yet so proud of you, my sun! Tau banget emang dia cara nyambuk sahabatnya yang bengal satu ini. Kalau Uta liat post ini pasti dia ngambek gue cerita-cerita. Yaudahlah siapa juga ini yang bakal liat.


Terus sekarang gue penuh determinasi! Sangat penuh! Bismillah! Dan gue ngantuk. Dan tulisan ini lebih random daripada apapun. 'Gue' dan 'Saya'-nya nampur-nyampur gitu. Bye.

Jumat, 11 Januari 2013

Saya Bingung Mau Kasih Judul Apa

Pupus sudah. Pupus sudah semuanya. Nilai akhir satu per satu terpublikasi di situs universitas. Dan saya bingung mau berkomentar apa.

Pertama, saya sudah mengkalkulasi IP tertinggi yang bisa saya dapat. Dan hasilnya................ /titik-titik tak terbatas/ Saya tidak mau mencari excuse, meski saya bisa saja menyalahkan orang lain. Misal, lima dari tujuh dosen saya memang sudah memiliki track record buruk dalam memberikan penilaian pada anak didiknya. Oke, kunci. Saya juga bisa menyalahkan diri saya sendiri. Karena semester satu ini saya masih sering ngawang sendiri, berharap bisa balik ke masa-masa indah saya di SMA. Berharap tidak ditinggalkan sendiri di lingkungan yang sama sekali baru ini. Sampai sekarang saya masih gak habis pikir kalau saya sudah benar-benar melewati satu semester tanpa orang-orang yang saaaangat saya sayangi. Menjalani semuanya. Sendiri. Kunci. Saya juga nekat ambil beberapa kepanitiaan yang cukup menguras waktu dan pikiran. Kunci. Yang paling vital, di atas itu semua, saya menyadari bahwa kemarin saya masih sangat bocah. Kenapa?

Saya gak mikirin mama papa yang mahal-mahal kuliahin saya. Saya mikirin, sih. Tapi tetep gak berbuat apa-apa.

Saya gak lagi tergoda untuk meraih mimpi-mimpi saya.

Semua itu hanya karena saya cuma bocah yang manja. Yang nggak mau berusaha, beralasan lingkungan yang tidak mendukung.

Saya gak pernah belajar, di saat temen saya yang udah ditakdirin jenius aja masih bangun lewat tengah malam buat ngulang pelajaran. Dikasih pr, saya ogah-ogahan. Dosen-yang-tidak-pernah-membuat-muridnya-mengerti-pelajaran menerangkan, saya bukannya berusaha tetap mencoba untuk memahami dengan memperhatikan, malah asik sendiri nyoret-nyoret kertas.

Terkadang ada saat di mana kita tau apa yang harus kita lakukan, tetapi kita tidak pernah benar-benar melakukannya. Bukan karena tidak bisa, tetapi tidak ingin.



Kunci.


Kasus saya terhenti menjelang UAS. Saya berusaha mati-matian, saya akui. Saya berani mengatakan bahwa saya melakukan usaha yang terbaik. Dan alhamdulillah, hasilnya cukup membantu nilai secara keseluruhan. Tetapi tetap tidak cukup. Mungkin saya takabur kalau bilang apa yang saya dapat tidak cukup. Masalahnya, saya berutang kepada mama. Berutang satu hal yang tidak mungkin akan dapat saya tepati apabila terjadi hal buruk di luar kuasa saya.

Allah, Hazna boleh minta? Untuk mama. Untuk papa. Untuk-Mu. Tolong. Tolong izinkan saya untuk menepati janji itu...

Selalu ada hikmah yang dapat diambil. Dan saya udah nangkep maksud Allah melakukan ini pada saya........ sumpah ini gila abis. Tapi tidak mungkin terjadi secara kebetulan kan. Jadi, challenge accepted!

Saya mau coba memperbaiki semua. Bukan hanya untuk diri saya sendiri, bukan hanya untuk mama papa, keluarga, sahabat-sahabat saya, bukan juga hanya untuk orang-orang di sekitar saya.


Kini saya sudah kembali dapat bermimpi manis.

Minggu, 06 Januari 2013

Welcoming Holiday!!!

Siang! Setengah hari ini berjalan begitu cepat.

I've been officially welcoming my first one month holiday since last Friday. UAS telah berakhir, dan gue rasa gue sudah mencoba melakukan eksekusi terbaik. Ya, ekseskusi akhir yang tetap penuh dengan ketidaktelitian. Tapi ya sudahlah, Allah Maha Tahu Yang Terbaik melebihi diri saya sendiri.

Dan liburan gue sama sekali bukan liburan. Dari dulu gue bercita-cita punya liburan yang produktif. Alhamdulillah, gue dapet kesempatannya sekarang. Jadi.... ceritanya liburan ini akan gue habiskan dengan memenuhi responsibility gue di tiga kepanitiaan FE. Nyari sponsor buat KOMPeK, nyari medpar buat NFF, dan nyari dana CSR buat Maker. Yang udah mulai aktif baru KOMPeK sama NFF sih, sebenarnya. Jadilah liburan ini mulut gue bakal berbusa buat marcall dan bolak-balik buat meeting. Terus gue juga akhirnya magang!!!!! Di UKM Center FEUI. Dan gue juga masih harus meneyelesaikan tugas gue di kepanitiaan Eduday SMANSASI 2013. Terus gue juga mau belajar mobil (lagi), setelah sekian lama. Terus mau ngedekor kamar kostan. Terus mau apalagi, ya?

Yang jelas kesibukan liburan gue sudah mulai terasa sejak tadi pagi. Dan tiap kali capek, gue selalu ingat cita-cita gue lagi. Semuanya pasti worth it in the end, kok. Kalo gini aja masih ngerasa 'sayang', gimana nanti gue bisa ngasih hidup gue buat orang-orang di luar sana, ya kan?

Pokoknya, siapapun yang sedang berlibur, gue mengucapkan selamat menempuh masa-masa indah liburan!

Rabu, 19 Desember 2012

Gloomy Wednesday

Hai...... jengah deh. Jadi memutuskan untuk sekedar menengok laptop sejenak. Btw, 'sejenak' itu gue pakai untuk buka online comic, berhubung hari Rabu memang jadwal chapter baru Naruto buat keluar tiap minggunya. Gue sangat sangat excited, seperti biasa. Hingga akhirnya...


Gue sampai pada halaman ini...........





Neji mati.

Detik itu juga mata gue langsung berkaca-kaca. Dan dengan bodohnya gue nangis sesenggrukan, sambil nge-scroll. Nangis yang bener-bener nangis.

Ada gak sih orang di sini yang tau secinta apa dulu gue sama Neji. Bahkan gue sampe bikin fanfiction tentang gue sama dia. Ya, se-freak itu. He did literally flourish my day. Dulu gue bener-bener percaya dia nyata.

Yah, itulah masa lalu gue. He is my past, but I have never thought that I would ever live to say a goodbye to him. I wish he lasted forever, bahkan setelah Naruto tamat. Gue pengen dia jadi petinggi Konoha nantinya, apa kek, yang penting gak mati sampai ini komik tamat. Mungkin gue dikira lebay, ya memang. Tapi gimana.... coba bisa pada ngerasain apa yang gue rasain.

Gue beneran sedih. Bahkan nge-upload gambar di atas aja bikin gue pengen nangis lagi. :(

Neji, thankyou for ever being there! Thankyou for being one of the memory that I could always smile at when I remember you. Rest in peace, sweetheart.

Btw lagi, one of my friend has finally uploaded our very last project of MPKT-A Class. This video is the one that was played on day one. Terima kasih, Bu Nayla dan teman-teman MPKT-F yang memilih video kami sebagai perwakilan untuk ditampilkan! Semoga pada suka ya!

Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia Kita, Satu!

Home Group 5 MPKT-F 2012/2013


Oh ya! Besok mulai UAS aaaAAAAaAAaaAAAAaaa. Dan Pengantar Ekonomi-1 menjadi pembuka yang... cukup melelahkan. Semoga kita semua dilancarkan, esok dan seterusnya. Aaamiiin!

Selasa, 18 Desember 2012

Laknat

Kolonel Hazna melapor dari medan perang!

Waktu menunjukkan tepat pukul 00:31. Dan saya masih bangun, karena pengbis. Huh, gak cool abis. Saya benar-benar tidak menjamah kasur sejak pukul lima pagi. Hari ini adalah hari Selasa paling sibuk sepanjang sejarah saya kuliah. Tersibuk, justru saat H-2 UAS. Biasanya saya kuat melek kalau siangnya tidur dulu. Implikasinya, sakit kepala saya makin parah. Tapi sudah saya tangkal dengan kopi kok. (?)

Kesannya saya pekerja keras banget, ya? Engga, kok. Justru ini wujud penyesalan saya karena satu semester ini tidak serius. Udah tau kedapetan regol laknat (yang terepresentasikan dari laknatnya dosen-dosen saya), masih aja saya angin-anginan belajar. Kapan-kapan saya ceritain deh sedewa apa dosen-dosen saya. Yang jelas, hanya dua dari tujuh matkul yang ngasih saya, insyaAllah, nilai aman. Sisanya wallahualam. Jadi, berhubung saya sama sekali tidak maksimal, dan memang dosen-dosen saya laknat, saya pastikan tidak akan ada seorang pun yang tau IP pertama saya kecuali Tuhan dan saya sendiri.

Maaf, ma, pa. Teteh cuma bisa berjuang di saat-saat akhir. But I'll try my best, start from tomorrow. Wish me luck, everyone!

Sabtu, 01 Desember 2012

One Little Step, A Family

I finally completed my Saturday. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding menghabiskan waktu dengan mereka yang dapat membuatmu tertawa, hampir tiada henti. Entah sejak kapan gue merasa nyaman berada di tengah mereka. "Nyaman" dalam kamus gue adalah pada saat gue bisa menjadi diri gue sendiri tanpa hambatan, tanpa memikirkan impresi orang terhadap gue apabila bertingkah ini itu. So here they are! My brand new family.




Sponsorship Team KOMPeK 15


Sekarang saya mengerti arti "keluarga" dalam kepanitiaan di lingkungan yang bisa dibilang sangat baru ini. Entahlah, speechless, bingung mau bilang apa. Yang jelas makasih sudah bikin saya gak berhenti ketawa, maaf diulang lagi karena itulah poin utamanya. Yang jelas saya akan usaha lebih maksimal, soalnya saya gak mau mengecewakan. Itulah cara saya menghargai pertemuan dengan kalian, Kinta, Kak Kelvin, Kak Savira, Kak Talitha, Haryo, Samsul, Erika, Marvin, Pizi, juga Emil yang kebetulan udah keburu menghilang pas lagi difoto. Ratusan juta kecil lah ya. *sroooot*

Mereka rumah kedua saya di fakultas abu-abu ini. H-2 bulan lewat dikit, SMANGKOK, SPONS!

Btw, akhirnya saya punya foto pake jakun bermakara abu-abu! Ha! Been a long time, and what makes it special is....


Tepat! Foto ini diambil di depan perpusat, bersama dengan beberapa teman Batik.


4 dari 5 Batik FE




Langkah awal yang kecil impactnya besar kan? Semoga kita semua tidak pernah merasa cukup puas dan menjadi rantai generasi yang terus memperbaiki diri. Bahasanya Adnil sih.

Jumat, 30 November 2012

Memilih Juga Pilihan

Berhubung hari ini adalah hari terakhir masa kampanye, saya mau sedikit menceritakan beberapa perspektif saya soal pemira pertama yang saya ikuti di FEUI.


Saya direkrut menjadi campaign team dari calon ketua dan calon wakil ketua BEM FEUI 2012, Lia dan Panca. Tidak aneh memang, karena saya sendiri adalah menti Kak Lia semasa ospek fakultas yang lebih dikenal dengan OPK. Saya tidak tahu akan dibawa ke mana tulisan ini, yang jelas saya mohon maaf terlebih dahulu apabila ada salah kata.

Sejak awal, iklim organisasi dan demokrasi FEUI lah yang membuat saya begitu ingin menjadi bagian darinya. Ya katakanlah ia fakultas ekonomi terbaik di Indonesia, mungkin saja, but that doesn’t matter that much. Saya lebih penasaran dengan “hal lain” di dalamnya—lingkungan seperti apa yang melahirkan orang-orang besar yang dikenal masyarakat luas. Saya ikut OPK, okelah, FEUI keren kok. Apalagi saat-saat closing di mana kita meneriakkan “merdeka”, “hidup mahasiswa”, “hidup rakyat Indonesia”, di sekeliling kolam makara dengan jaket kuning yang akhirnya kita kenakan. Saya pikir, FEUI akan membawa kejutan-kejutan lain dalam hidup saya.

Nyatanya saat ini saya kecewa. Saya menyadari ekspektasi saya terlalu tinggi. Saya kira pemira pertama saya di sini akan penuh antusiasme, dengan orang-orang yang ramai berkumpul menyaksikan calon pemimpin masa depannya memberikan orasi. Saya salah. Eksplorasi publik, sesepi itu. Stand-stand para calon, semelompong itu. Lebih jauh lagi saya menyelidiki langsung di kalangan para mahasiswa (baru), setidakpeduli itu. Jadi begini, FE yang apatis.

Saya iri dengan fakultas tetangga, sejujurnya. Mungkin saya melihat dari hanya satu sisi, tapi satu sisi sepenglihatan saya itu memperlihatkan antusiasme rakyat yang lebih besar di sana. Saya tidak tahu apa yang salah.

Nah, Lia dan Panca. Siapapun 2012, mungkin asing dengan nama tersebut kecuali mereka yang notabene merupakan menti dari keduanya. Saya tidak memungkiri, siapapun kita yang masih beradaptasi, pasti bingung ke mana harus melangkahkan kaki. Banyak yang saya temui tidak berniat untuk memilih, alasannya, ya... takut salah pilih karena mereka tidak mengenal kandidat. Pertanggungjawabannya besar memang jika memilih. Tapi yang jadi pertanyaan, jika memang tidak kenal, mengapa tidak mencoba untuk mengenal? Sedangkan mereka, rata-rata, jangankan mampir ke stand, dikasih gratisan pulpen atau kipas saja mikir-mikir dulu. 

Apa salahnya sih mencoba untuk percaya? Toh kekecewaan bukannya lebih baik dari penyesalan? Saya pribadi punya mulut, saya bisa kritik kalau tidak puas. Tetapi kalau menyesal tidak memilih? Nah, siapa yang punya mesin waktu untuk kembali ke masa lalu? Saya sudah mencoba memberi tahu konsekuensi jika tidak memilih. Prosesnya akan begitu panjang dan rumit jika kandidat ini tidak mendapatkan cukup suara. Lalu, apa jawaban yang saya dapat? “Toh yang ribet bukan gue, kan?”

Tidak, saya tidak marah. Setiap orang bebas untuk memilih. Kak Lia dan Kak Panca tidak diberikan semua kelebihan, pasti memiliki kekurangan. Tidak mungkin semua orang menyukai mereka, pasti ada saja yang tidak. Dan itu tidak salah. Saya menghargai mereka yang datang dan memilih untuk memberikan suara menentang majunya Lia-Panca. Lebih menghargai hal tersebut, karena jauh di dalam, sebenarnya mereka peduli, bukan?

Satu hal. Jika Anda tidak suka karakter luar calon pemimpin Anda, cari tahu kinerja mereka. Kenali mereka lebih dalam.

Tetapi, sekali lagi itu pilihan. Kalau memang dasarnya tidak peduli, mau bagaimana lagi? Saya sendiri tidak ingin naif, merasa diri saya yang sudah paling peduli, tidak. Bisa jadi hanya karena saya CT, saya menulis ini. Toh di sini saya tidak mengajak siapapun untuk mendukung siapapun, bukan? Saya sih, sudah cukup melakukan hal itu beberapa hari terakhir.

Di sini saya menulis murni sebagai pendatang.

Pilih jalan yang Anda ingin pilih. Saya berdoa pilihan tersebut adalah pilihan terbaik yang akan membawa masa depan FE yang lebih cerah. Saya cukup dengan satu harapan, dan harapan saya ada di dalam Lia dan Panca.

Rabu, 28 November 2012

Sedikit...

Hari Rabu. Waktu bisa jadi berjalan lebih cepat dari cahaya dalam perkuliahan. Dan entah apa yang lebih berat dari kepala saya.....

Satu hal yang terngiang-ngiang dalam batin, "cepat cari kostan baru.. cepat cari kostan baru.." Bukan saya tidak nyaman dengan kostan saya yang sekarang, justru karena kelewat nyaman. Sementara tanggung jawab saya pada orang tua sebanding dengan apa yang mereka berikan pada saya. Jujur, 'difasilitasi' justru memberi tekanan yang lebih berat. Orang tua susah-susah, mahal-mahal nyekolahin, lah gue malah mager.

Ma, Pa, tenang saja. Teteh yang sekarang lebih kebal akan godaan tidur. But still, I need more supporting atmosphere in order to keep myself being pushed to the limit. Saya butuh ketidaknyamanan. Saya butuh sedikit ombak, saya butuh hidup yang sedikit lebih prihatin.


Mari kita lihat jam berapa saya akan tidur malam ini. Matek, kau laknat. Tapi aku (harus) mencintaimu.


Minggu, 25 November 2012

Sinergi

Jadi ceritanya.... salah seorang temen SMA gue yang sekarang di SBM ITB dateng jauh-jauh ke Depok buat nonton event FE, JGTC. Dan implikasinya, jadilah dia menginap di kostan gue. Dan gue jadi gak belajar. HUFH. Terima kasih, Jihan Syifania Mandagie.

Sepanjang tadi Jihan cuma ngerecokin gue di kamar. Minta-mintain lagu dari laptop, nge-net gak jelas, dan surfing kita berakhir di situs sejuta umat manusia, Youtube. Jihan melimpahi gue dengan film-film buatan Liga Film Mahasiswa ITB, which are keren abis. Sweet sih, sebenarnya.

Nah, ini yang paling keren!


OSKM ITB 2012


Gue mengagumi 'jargon' ITB sejak dulu, 
"Salam Ganesa, bakti kami untukmu, Tuhan, Bangsa, dan Almamater."

Dahulu, senior-senior SMA gue yang udah duluan di ITB pernah memperagakan salam tersebut di sekolah pada suatu kesempatan. Sayangnya gue gak bisa lihat langsung waktu itu. Bahkan, gue, yang cuma diperagain sekenanya diceritain sama temen, merinding. Dan menonton video di atas, gawat. Lebih-merinding-lagi.

Mereka keren. Gue gak peduli jika ada salah satu, dua, tiga, atau beratus-ratus dari mereka yang melakukan salam itu dengan terpaksa. Seterpaksa-terpaksanya mereka, gue yakin hati mereka tergerak. Dan gue iri akan hal itu. Di dalam lautan manusia tersebut ada sahabat-sahabat gue yang untuk bisa sampai di sana berkorban mati-matian. Gue tahu betul mimpi mereka, dan gue tahu mereka ada di jalan paling tepat menuju impian mereka saat ini. Dan kami sudah berjanji, setelah empat tahun, kami akan kembali ke sisi masing-masing untuk mewujudkan mimpi kami bersama-sama.

Dan, Indonesia tidak hanya memiliki ITB. Jutaan pelajar, mahasiswa dari Sabang hingga Merauke menunggu saat mereka untuk berkontribusi. Sayangnya, universitas di Indonesia hampir semuanya mementingkan ego masing-masing, berlomba-lomba membentuk image bahwa mereka lah yang terbaik. Pertama kali masuk kuliah, bukan sekali dua kali gue mendengar "kalian itu putra-putri terpilih" "mana lagi universitas yang menyertakan nama bangsa selain kita? Kalian itu harapan bangsa!" "jangan mau kalah dengan mahasiswa universitas lain!"

Jengah.

Salah satu teman gue yang sekarang di SAPPK ITB menceritakan pengalaman OSKM-nya tidak lama setelah acara tersebut berakhir. "Seru sih Haz keren gitu, tapi kenapa ya gue ngerasanya ITB arogan... Putra-putri garuda, putra-putri terbaik bangsa, seakan-akan yang lain gak lebih baik."

Oh, masalah bersama tampaknya. Setidaknya gue bersyukur masih ada orang seperti dia yang sadar, man this is not right. Absolutely not. Indonesia kapan maju kalo tonggaknya aja masih jalan sendiri-sendiri? Masih saling mandang satu sama lain sebelah mata?

Nama gue Hazna Nurul Faiza. Dan mimpi gue "melakukan sesuatu untuk bangsa ini" dengan sahabat-sahabat gue di sesama UI, ITB, UGM, Unpad, Unbraw, dan seluruh universitas nusantara. Suatu saat nanti, hopefully.

Sebenarnya gue malu nulis ini di saat gue pribadi belum menyiapkan apa-apa buat kuis besok. Start the change from yourself before you do it for others, they say.