Tampilkan postingan dengan label Inspiring. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiring. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juli 2013

"If you could do magic, what part of this Nation will you change?"

Well, Dinar. I don't really think I have a proper answer for this question.

Negara ini tidak pernah ditakdirkan miskin, satu hal yang saya percaya. Namun, ada frase yang hilang. Biasanya kalimat tersebut diikuti "...tetapi berada di tangan yang salah."

Hei, dulu saya salah satu orang yang meyakini mati kalimat tersebut. Pikiran dan hati saya menggebu-gebu ketika memikirkan negeri ini, membayangkan how great this nation is gonna be ketika generasi saya--kita--memimpin. Saya begitu merasa percaya diri, seolah-olah tangan saya bukanlah satu dari 'tangan yang salah' tersebut. Kemudian...

Saya mulai bertemu orang-orang hebat. Akademisi. Politisi. Pengusaha. Menteri. And know what? Saya mulai berpikir dua kali. Mereka orang yang hebat, benar-benar hebat. Mereka pintar, kritis, visioner, tulus, lontarkan saja semua pujian. Lalu, bagaimana mungkin negeri ini masih seperti ini di tangan mereka? Di tangan orang yang, setelah saya temui, saya yakini bukan tangan yang salah.

Naif sekali, pikir saya, jika saya pikir tangan saya lebih 'benar' daripada mereka. Ada ungkapan lain yang bilang, "Semua orang pintar di Indonesia sudah dan akan pergi. Jika Anda masih tinggal karena merasa dapat merubah negeri ini, maka Anda adalah orang yang naif." Dulu saya mati-matian menentangnya. Dan kini, semakin banyak tahu, saya pun kembali berpikir dua kali.

Apakah saya orang yang naif? Untuk berpikir tangan saya mampu memangku 240 juta penduduk dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote? Untuk memimpikan diri saya bertahan di negeri ini, dengan harapan membawanya ke arah yang lebih baik? Saya yang dulu akan menjawab, tidak, saya bukan orang yang naif. Berpikir seperti itu bukanlah hal yang naif.

Saya yang sekarang akan menjawab, ya, saya orang yang naif, tetapi saya tidak peduli.

Saya yang dulu hanyalah bocah yang terbuai mimpi, yang polos, yang tidak tahu apa-apa. Sekarang, bukannya saya tahu segala hal, hanya saja saya mulai dapat melihat dan merasakan apa itu keputusasaan yang dibawa sesuatu bernama realita. Saya sempat ingin menyerah dan mencoba realistis, ayolah buka mata! Merubah negeri ini bukan hal yang mudah. Hingga salah satu sahabat saya berkata,

"Dihadapkan dengan yang seperti ini, bukannya sudah banyak yang menyerah? Kalau menyerah sekarang, apa bedanya kamu dengan mereka?"

Saya pun mulai hilang arah dan mencari kembali diri saya yang dulu, si bocah penuh harapan. Dan, tara! Saya menemukan ini, beberapa bait dari pidato saya di kelas Bahasa semasa kelas 3 SMA dulu.

"...Bayangkan hal ini terjadi pada beribu-ribu keluarga lain. Warga komplain, pemerintah tidak menanggapi, warga kehilangan kepercayaannya, warga apatis. Bukannya siklusnya akan seperti itu? Di saat yang sama, warga lain turut menyalahkan pemerintah. Entah mengenai reshuffle kabinet, pembebasan walikota Bekasi dari jerat korupsi, kerusuhan Freeport, ataupun berbagai kasus lainnya. Alih-alih pemerintah sadar atas kicauan warganya, dengan santai mereka membalik keadaan dengan melontarkan kalimat bijak JFK, 'Don't ask what your country can do for you. But ask what you can do for your country.' Pada akhirnya, siapa yang patut dipersalahkan? Pertanyaan yang tidak perlu dijawab, tentu karena pertanyaannya saja sudah salah.

Bangsa ini baru akan kokoh apabila para pemimpinnya mulai memberi dan berhenti meminta pamrih, sementara rakyatnya berhenti menyalahkan dan mulai berkontribusi.


Pertanyaan yang sebenarnya, kapan kita mau memulai?"

Saya melupakan diri saya yang pernah menulis demikian. Saya melupakan problema mayor di Indonesia yang ditemukan oleh diri saya yang penuh harapan dan optimisme. Diri yang jauh berbeda dengan saya yang sudah cukup menelan realita pahit.

Sekarang saya tahu kondisinya. And I don't wanna lose my faith. I choose to live my old dream, meskipun hal tersebut akan membuat saya terlihat naif.  
And I'll definitely make it real.
Tidak, saya tidak merasa memiliki tangan yang 'benar'. I will just simply struggle to have one, that's worth a try, isn't it? Ya, saya naif karena tidak pernah sekalipun terpikir di benak untuk tinggal di tanah orang lain. Tapi saya adalah orang yang akan membuat mereka yang telah pergi merasa lebih naif, karena apa yang mereka harap akan dapat di luar sana tidak akan lebih besar dari apa yang akan mereka dapat apabila tinggal. Merasa naif untuk mencari keluar sesuatu yang sebenarnya negeri ini dapat beri lebih.

I'm currently facing the real world.
I have once lost hope.
I have once given it up.
But I believe, this should be right.
To gather new hopes,
And make it happen.
I'm not afraid anymore.

--

 

Harapan.

That's my answer, Din.

"Apa Kabar?"

Kamu, tujuh-tahun-mendatangku,
Ah, lama, ya, tak bincang lewat kata. Kabar baikkah?
Ya, tertawa saja jika kutanya kabar. Tak apa pula, bukan, jika kini tak tahu-menahu kabar? Toh, romantis bukan bisikkan kabar tiap saat, cukup saling pinta dalam diam agar dijadikan satu saat siap nanti. Namun, tetap saja terus kuharap primamu di setiap waktu. Baik-baik, kumohon.

Kamu, yang ternyata-mungkin-lebih-atau-bahkan-kurang-dari-tujuh-tahun-mendatangku,
Bagaimana kau lewati harimu? Bagaimana usaha gapai (aku yang) masa depanmu? Berat, ya? Tak pernah ada yang katakan itu akan mudah jika perihal yang mendatang. Namun, ingat, yang mendatang menanti. Jangan pernah nikmati tiap jatuhmu. Terus berjuang, kumohon.
Bayangan tentang yang mendatang jadikan saja semangatmu.
Miliki selalu pelukan di tengah hingar bingar perseteruan isi pikiran.
Miliki selalu genggam yang menguatkan, bukan melepaskan.
Miliki selalu hati yang mengerti, tidak memaksakan.
Miliki selalu dekap yang tak pernah membiarkan, tapi mengiringi sampai tujuan.
Pun ingat, miliki selalu senyum yang menjadi hangat sekaligus sejuk.
Saling memenangkan. Saling menyelamatkan.
Masa yang menyenangkan. Masa yang menenangkan. (Amien)

.....
Maaf, tadi kau bergumam apa? Aku sendiri bagaimana?
Pun di sini sama: tak mudah. Namun, entah, manjakan lelah juga jenuhku tak pernah lebih menggiurkan dari perjuangkan masa depanku (yang ada kamu).
Kerahkan seluruh kemampuan 'tuk cipta kemampuan yang lebih pantas.
Biarkan dulu saja lah aku. Semuanya untukmu, tahukah?
Murni bukan untukku berbangga, melainkan untukmu berbangga, setelah orangtuaku. Karena sungguhlah, kemampuan sebenarnya bukan ajang perempuan (sepertiku) untuk menyombongkan diri, tapi 'tuk menggandeng tangan laki-laki(ku) agar tak kerepotan sendiri. Karena masa depan sudah tentang dua orang, bukan?
Mengerti, ya, kumohon.
“The woman is the reflection of her man.” — Brad Pitt
Bacanya buatku malu (dan tidak pantas). Entah, kamu yang (semoga) baik akhlak, hati, juga imannya, akan dikatakan apa jika berdamping aku? Bahkan aku akan bingung setengah mati jika Tuhan tetap pilihkan aku untukmu.
Akhlakku masih jauh dari sempurna, lalu bagaimana bisa aku dipilih Tuhan 'tuk jadi pendampingmu?
Bacaanku masih fiksi kacangan dan bukan Al-Qur'an, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi tuntunan bagi anak-anakmu?
Tubuhku masih belum terjaga sempurna, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi rumah yang aman bagimu?
Hatiku masih penuh dengan iri pula angkuh, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi penyejuk hatimu?
Tanganku masih malas bantu sesama, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi tangan kananmu bangun rumah tangga?
Telingaku masih suka dengar yang jahat, lalu bagaimana mungkin aku bisa menjadi pendengarmu yang baik?
Lisanku masih suka banyak bicara pula berkata tak layak, lalu bagaimana mungkin aku pantas menjadi pelipur laramu?
Masih jauh perjalananku agar pantas menjadi pendampingmu. Bersabarlah, kumohon.
Mari anggap ini menyenangkan, menunggu janji-Nya yang tak pernah ingkar, dalam usaha menjadi ikhlas dan taat.
Aku hanya harap, semoga kita ada dalam satu ego nanti: ingin saling memiliki, selamanya.

Sungguhlah, bukan aku diam, Dia tahu betapa aku selalu ribut dan berisik memintamu dalam sujud panjang di akhir rakaat.
Pun bukan aku diam, hanya saja takdir masih menuntut kita 'tuk berjalan lebih lama.

Kau pun tahu, menemukan hanyalah perihal waktu.
Namun, keyakinan justru yang nyatanya bukan perkara waktu. Keyakinan bahwa masing-masing adalah yang terbaik untuk masing-masing.
Karena pada akhirnya hidup memang hanya perihal mencari jalan terbaik menuju mati, juga yang terbaik sebelum mati.
Sekarang kutanya, apa yang ingin kau capai dalam hidup?
.....
.....
Kalau aku, jadi yang kau gapai sebelum mati. :)

Sekian dulu, sudah larut. Selamat tidur, Tuan.
Aku akan sedia di sisi ragamu suatu masa, setiap lelapmu, pun terjagamu.
Dan jadilah satu yang kubangunkan Subuh-nya, lalu jadi Imamku, selamanya...

Tertanda, Rumahmu.
 
Beaytifully Odd, Apa Kabar?. http://ayagz.blogspot.com/2013/06/apa-kabar.html. Diakses pada tanggal 7 Juli 2013, Pukul 19.24.

Kamis, 04 Juli 2013

Mati

Di saat saya sedang ingin ini itu.

Milyaran sel dalam otak sibuk mengkalkulasi cara tercepat yang dapat ditempuh.


Di saat mata dibutakan duniawi, hati jauh dari Sang Khalik.

Cepat kulaksanakan sembahyang, lisan tak sedia lantunkan ayat Qur'an.


Di saat hidup sedang datang tanpa makna.

Buang apa yang kausebut tujuan, mimpi, visi, cita-cita.


--

Di saat yang sama, jerit isak menyeruak. Kupertajam dengar untuk mencari tau alasan lengkingan-lengkingan tersebut. Katanya ada yang meninggal.

Coba gerakkan kakiku yang terlanjur kaku. Bukan saja kaki, tapi raga. Ragaku menolak untuk bergerak. Terpana kulihat pemandangan di depan mata: seorang wanita baya tergopoh-gopoh datang berlinang air mata, berteriak menghampiri wanita muda yang begitu dengar membalas dengan jeritan pula. Keduanya kemudian berlari, menghilang dari jangkauan mata, menangis.

Wanita baya itu saudari nenekku, sementara wanita muda yang dijemputnya adalah menantunya. Keduanya menangis karena menantu wanita baya yang lain, istri dari ipar si wanita muda, berpulang ke sisi Yang Maha Kuasa. Keduanya tinggal bersama keluarga besar mereka di samping rumah nenek, yang tidak berapa lama kemudian memperdengarkan jerit yang berbeda. Jerit yang lebih menyayat; jerit anak-anak yang kehilangan ibunya.

Namanya Teh Emi. Ya, meski seharusnya aku memanggilnya bibi, aku lebih suka memanggilnya demikian. Ia seorang ibu muda dari lima anak yang tangguh. Ia banting tulang, mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan untuk membantu suami menghidupi keluarga mereka. Seorang wanita yang ramah, namun tegas. Sosok yang mampu mendidik anak. Ketika ia menawarkan barang jualan ke rumah-rumah, ia bawa dua anaknya yang paling kecil. Yang satu dalam gendongan, yang satu ia tuntun ketika berjalan. Beda usia keduanya tidak begitu jauh. Aku tidak begitu ingat siapa saja anak-anaknya. Hanya yang paling besar yang paling kukenal, karena dulu adikku sering bermain dengannya. Kubayangkan jerit tadi keluar dari lima anaknya yang masih kecil, yang tertua saja SD belum rampung.

"Sekarang abang nggak punya ibu."

Kudengar nenek bercerita mengenai isak Naufal, yang biasa dipanggil Abang, anak lelaki Teh Emi yang tertua. Nenek menjawab Abang dengan halus, "Nabi Adam saja tidak punya ibu."

Anaknya yang tertua kedua (atau ketiga), Syamil, menjerit-jerit meminta jenazah sang ibu diantar dari Depok untuk dimandikan dan dikuburkan di kampungnya. Teh Emi yang syarafnya terjepit dirawat di Depok berminggu-minggu, tak sadarkan diri. Aku pun baru mengetahui hal tersebut kemarin, itupun sekilas dan hanya tahu sebatas beliau dirawat, tanpa tahu apa penyakitnya dan bagaimana keadaannya. Sungguh kukira hanya penyakit biasa, karenanya kuanggap berita tersebut angin lalu.

Teh Emi masih mengunjungi rumah nenek saat lebaran tahun lalu, masih terlihat begitu sehat dan bersemangat. Aku masih tidak percaya beliau tidak akan datang lagi di lebaran mendatang. Miris kubayangkan lima anaknya datang tanpa ibu mereka, memakan ketupat dan daging yang meskipun menjadi makanan mewah bagi mereka, mungkin akan terasa hambar. Sedih kubayangkan mereka menyuap sendiri makanan mereka, dan bisa jadi bergantian menyuapi adiknya yang paling kecil. Kepergian Teh Emi menggenapi kepergian orang kepercayaan nenek sejak dulu, Matisah, yang telah lebih dahulu pergi di tahun ini. Matisah sudah bekerja untuk nenek bahkan sebelum aku lahir, dan aku menghormati dan menyayanginya seperti nenekku sendiri. Kepergiannya yang lalu masih menyisakan perih yang sama sepanjang aku mengingatnya.

Di lebaran berikutnya, mereka berdua tidak akan datang.

Rasanya begitu cepat, namun nyata. Aku adalah salah satu dari mereka yang tidak pernah merasakan kepergian orang terdekat sejak aku dapat mengingat. Kini hatiku dipenuhi rasa takut, apa jadinya aku bila suatu saat hal ini terjadi dalam lingkaranku? Satu per satu akan pergi, that's obvious, that's only a matter of time. Tapi, siapa yang akan mendahului siapa? Aku terlalu takut untuk membayangkan. Masih banyak yang dapat terjadi hingga lebaran mendatang, dan lebaran berikutnya, lalu berikutnya lagi. Aku hanya bisa berharap kami dapat merayakannya dengan lengkap.

Kematian, dan apa yang akan terjadi setelah itu, meski sudah jelas diungkapkan dalam Al-Qur'an, tetap masih misteri bagiku. Berbahagialah Teh Emi dan mereka yang beruntung mendapat kemuliaan meninggal di hari Jum'at; kematian yang didambakan seluruh umat Nabi Muhammad.

Kini aku kembali diingatkan tujuanku dihidupkan di dunia. Untuk mati, ya, aku hidup untuk mati. Namun, apa yang kita dapat ketika mati, bergantung pada apa yang kita beri di dunia.

Rasanya kembali pula aku diingatkan cara bersyukur. Untuk apa harta kekayaan, gadget canggih, mobil dan rumah mewah, pakaian mahal, bila tak mampu cukupkan bekal untuk nanti mati?

I just want to give more,
To love more,
To cherish more,
To struggle more,
To hope more,
To do more,
To live every second of my life, meaningfully.
To not give up even a single little thing.

Terima kasih, Teh Emi, atas segala yang kau berikan selama hidup. Dan atas pelajaran berharga yang kau tinggalkan, bahkan ketika pergi. Semoga segala kebaikan dan amal ibadahmu diterima di sisi-Nya. Tenang, ya, di sana.

Rabu, 01 Mei 2013

All I Need

"You have a brilliant mind Cen, and that's the only thing you need to achieve anything in this world."

Ah. I still need one more thing, tho. One like you, Cal.

When you dream alone, it will just remain as a dream. But when you dream together, you are making it real, right? You sure have a much more brilliant one. :-)

Then, there you are! With others, convincing me that it is not just a dream.

Malam ini, sekali lagi dibuat tersenyum oleh mimpi-mimpi itu. Dan Tiara Rachmaniar.

"Let us be the change this country would like to see in the future. And, it is us against the world."

Minggu, 28 April 2013

"Jangan pernah merasa hidup di negara yang merdeka ketika rakyatnya masih menjerit kelaparan.

Bangsa ini tidak pernah ditakdirkan miskin."

Dan raguku pun, hilang.

Sabtu, 20 April 2013

Go-Fight-Win, Rafif!

Hari ini, kabar baik kembali menghampiri.

Rafif Muhammad lolos seleksi untuk mewakili Indonesia di Asia-Pacific Moot Court Competition. He will be going to Tokyo, Japan, by the end of May as the youngest delegate from Indonesia. FYI, his team is the only one that will be sent to the competition since it has beaten other dozens coming from many universities throughout Indonesia. Dan Rafif adalah satu-satunya mahasiswa baru di dalamnya.

Mendengarnya, gue merinding. Hampir nangis malahan, saking senang dan terharunya. Tapi bersamaan dengan itu, rasanya kayak ditampar bolak-balik. Gimana nggak?

Gue pertama kali kenal Rafif dulu di OSIS, tapi memang kita tergolong jaraaang banget ngobrol. Kasusnya nggak jauh beda lah sama Adnil. Naik ke kelas dua, gue dan dia sama-sama resign dari OSIS. Gue memutuskan buat fokus ngurus Halim 77, ekstrakurikuler gue saat itu. Rafif kemudian join jadi panitia salah satu proker ekskul gue, OASIS IV, pentas seni SMA 1 Bekasi tahun 2011. He is the trusted one, gue banyak banget minta bantuan dia (lebih tepatnya asal tarik) buat jadi koordinator salah satu tim pencari sponsor. Gue termasuk sangat mempercayai dia, karena dia memang sebagus itu. Lepas dari OASIS, tepatnya di awal kelas dua belas, gue dan dia diminta sekolah untuk ikut lomba debat di Kementerian Perdagangan. Kami pun kemudian ditempatkan di satu tim, dan pencarian third speaker pun dimulai....... Awalnya Adnil sempat gabung, tapi baru beberapa hari, Adnil mengundurkan diri. Katanya, lombanya terlalu mendadak, dan materinya belum pernah ia kuasai. Ya memang sih, kurang nekat apa persiapan lomba baru dimulai saat H-7? Akhirnya pilihan jatuh ke Faisal Rahman (Ical) yang kelak justru menjadi ladang ide buat argumen kami. Kami pun melakukan persiapan di H-3. Iya tau kok, memang nggak tau diri.

Singkatnya, kami pun menang. Krik. Krik. Terus lolos ke babak nasional. Tapi kemenangan kami jauh lebih bermakna dari sekadar kemenangan. Karena, kami jadi saling dipertemukan satu sama lain. I got to know Rafif better, dan yang awalnya gue gak terlalu kenal sama Ical, jadi kenal banget. Mungkin kami bisa secocok itu karena satu kesamaan yang menjadi karakteristik kami: idealis. Kami mulai membangun visi, banyak berdiskusi, makin, makin, dan makin dekat. Sampai akhirnya kami berpisah. Yang awalnya kami bertiga mau menguning bersama di kampus perjuangan, akhirnya hanya gue dan Ical yang benar-benar menguning. Rafif yang keterima di UGM dan Unpad, akhirnya memilih untuk menjadi perjaka Bandung.

Rafif sedih banget waktu itu, begitu juga gue dan Ical. Tapi, ada semacam perasaan yang menyeruak, muncul tiba-tiba, yang intinya membuat gue sedikit lega. Entah kenapa, waktu itu gue pikir memang begitulah jalannya. Allah punya rencana yang terbaik buat Rafif, and it's proven now.

Sekarang gue yang malu. Gue yang ngerasa belum berbuat apa-apa. Jangankan Indonesia, mewakili diri sendiri aja belum loh, selama kuliah. Rasanya, ya, itu. Seperti ditampar bolak-balik. Padahal, visi kita sama, tujuan kita sama, tapi Rafif yang punya keberanian terbesar untuk melangkah duluan.

Gue bangga jadi sahabat dia. Dulu, sekarang, dan seterusnya, gue akan selalu bangga. Rafif memang dari kecil udah menunjukkan potensinya. Dia menang lomba sana sini--speech, debate, story telling, MUN. Tabungannya penuh dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan yang gue kagumi, dengan semua prestasinya, dia masih sangat loyal dengan orang-orang terdekatnya. Sangat. Dia juga terpilih jadi duta sekolah waktu SMA, meskipun aslinya......dia agak bad boy. Dan sekarang, meskipun beda jalan dan tempat, dia gak pernah absen tiap kali gue butuh apa-apa. Dan lagi, gue, Rafif, dan Ical sama-sama tau, jalan yang kami ambil boleh aja berbeda sekarang, tapi tujuan kami tetap satu. Dan itu untuk Indonesia, yang entah bagaimana dan mengapa sangat kami cintai. Gue belajar banyak hal dari mereka, termasuk satu hal:

Sahabat yang baik akan membawa sahabat-sahabatnya ke jalan yang juga lebih baik, dengan ataupun tanpa sadar.

Seperti halnya Rafif, yang dengan prestasinya membuat gue nggak lelah memperbaiki diri.

Sekali lagi, selamat ya, Rafif!
Harumkan nama bangsa di negeri seberang samudera, kobarkan semangat merah putih, dan gaungkan sekeras-kerasnya lagu Indonesia Raya.

Hacn akan segera menyusul :-)

Ical, Hazna, dan Rafif

Sabtu, 06 April 2013

Thank You

Maybe I wrote too much today. But the last, I just want to say thank you.

Semangat saya sudah kembali, maksimum. Izinkan saya sejenak menutup mata, mengingat kembali apa yang selama ini menjadi alasan untuk saya bertahan. Dan di tengah gelap itu, saya melihat mereka.

Bisa jadi tadi saya hanya merasa kesepian, sampai rasanya benar-benar jenuh. Jenuh menghadapi semuanya sendiri. Namun, sekali lagi,

Beruntung saya kembali diingatkan, bahwa saya tidak sendiri,

oleh seseorang yang bahkan tidak lagi tinggal di sisi,

namun selalu tersimpan di hati, bersama berpuluh wajah lain.

Terima kasih.


Dari terminal Bekasi-mu.
Yang juga rumahmu.

Ke Mana Perginya

I almost forget this one. Dihadapkan pada diri saya di masa lalu, rasanya seperti kembali berpijak di atas tanah. Ke mana perginya saya yang ini.

"Izinkan saya untuk menceritakan bagian terbaik dari masa SMA saya. Seperti yang sebelumnya saya sebutkan di atas, saya sama sekali tidak berminat untuk mencari sahabat baru di sekolah. Namun, the harder we deny something, the closer it comes to us. Begitu juga dengan saya. Saya tidak bisa menolak mereka yang tersenyum pada saya, kemudian tanpa sadar selalu ada di samping saya apapun keadaannya. Saya tidak bisa mendeskripsikan mereka. Sungguh, mereka, bersama-sama, adalah kesempurnaan. Dan satu-satunya yang menjadi ketidaksempurnaannya adalah hakikat mereka sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, yang tidak bisa menolak ketika takdir meminta kami untuk berpisah sementara.

Kawan, tidak ada yang lebih indah dari mereka. Betapa kenangan manis dengan mereka sudah amat banyak membuat saya menangis. Allah begitu baik. Ia mengambil dua orang yang dulu sangat berharga dalam hidup saya untuk memberikan yang jauh lebih baik. Yang saya dapatkan lebih dari itu. Seorang ketua OSIS, seorang peraih mathematics medal sekaligus ketua ekstrakulikuler olimpiade di sekolah kami, seorang gadis multitalented yang baru saja kembali dari satu tahun student exchange-nya di Amerika, dan seorang seniman—saya katakan seniman di sini because he is born to sing, dance, and do fashion stuffs. Tidak hanya mereka, begitu banyak orang-orang yang Allah tempatkan di sekeliling saya yang tidak mungkin tidak saya syukuri. Terlalu banyak, bahkan. Dan karenanya, saya menghapus air mata saya. Saya bertekad untuk sukses. Saya tidak akan menyia-nyiakan mereka yang menjadi salah satu alasan saya bersyukur atas hidup. Saya, suatu saat nanti, akan membuat mereka bangga. Empat tahun waktu kami untuk mengarungi samudera seorang diri. Dan setelah itu, kami berjanji untuk ‘pulang’. Berkumpul kembali.

Tidak mungkin hujan mengguyur selamanya. Ada saat di mana kita berada dalam fase yang membuat kita menangis dan tertawa. Toh semua tetap akan terjadi, mengapa kita tidak menikmatinya? Our life is like a roller coaster. It’s our choice whether to scream or enjoy the ride. Kegagalan hanyalah salah satu rencana-Nya untuk menghindarkan kita dari jalan yang salah. Hanya butuh waktu untuk kita memahami logika-Nya. Dia ingin melihat, siapa di antara hamba-Nya yang ketika diberi cobaan akan tetap bersama-Nya, mempercayakan semua kepada-Nya, dan siapa dari mereka yang malah berbalik memunggungi-Nya. Sungguh, Ia-lah Yang Maha Tahu.

Salah satu kegemaran saya dan sahabat-sahabat saya adalah bermimpi. Kami bermimpi menemukan pemimpin muda untuk Indonesia, dan bersinergi bersama-sama membangun bangsa yang lebih baik. Kami bermimpi untuk mebawa pulang 48.000 tenaga ahli Indonesia ke tanah air. Mereka yang sudah dipersiapkan oleh Prof. Dr. B. J. Habibie sejak zaman Suharto kini terpencar di seluruh penjuru dunia, hidup sejahtera karena merasa lebih dihargai di negara orang. Kami bermimpi untuk membentuk pola pikir masyarakat yang partisipatif, yang merasa dirinya memiliki hak dan kewajiban untuk memberi sesuatu kepada negaranya, bukan terus meminta dikasihani. Kami bermimpi memiliki pemerintah yang tidak menunjuk pihak lain ketika dimintai pertanggungjawaban, pemerintah yang berjuang untuk rakyatnya. Kami bermimpi untuk mengambil alih SDA Indonesia dari cengkaraman asing yang berkedok investasi. Tidakkah kita, putera-puteri Indonesia, kurang banyak dan mampu untuk menciptakan perusahaan ekstraktif sendiri? Dan tidakkah 20% kuasa atas SDA bangsa sendiri merupakan presentase yang terlampau kecil? Kami bermimpi untuk mewujudkan estimasi Indonesia sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia dengan GDP di atas US$ 1 triliun pada tahun 2015. Kami bermimpi untuk membebaskan Indonesia dari para gelandangan dan anak jalanan. Akan kami buatkan tempat berteduh untuk mereka! Melatih mereka yang sudah berumur, dan menyekolahkan anak-anak mereka. Kami bermimpi untuk merakit kembali, memperbaharui pesawat terbang N250-Gatot Kaca dengan sisa tiga ribu ahli dirgantara yang masih mengais nafkah di negeri sendiri—jumlah ini dapat dikatakan sedikit mengingat 13.000 lainnya sudah terlanjur besar di negeri orang. Kami bermimpi untuk membuat satu institusi sekolah, tempat seluruh anak bangsa yang terpilih berkumpul, bersatu, dibina untuk satu tujuan: memerdekakan Indonesia. Kami bermimpi untuk menggratiskan seluruh biaya pendidikan dan kesehatan. Kami ingin, setiap jiwa yang lahir di tanah ini memiliki hasrat untuk membanggakan negaranya. Ya, kami memang baru bermimpi. Tapi tidakkah semua hal besar berawal dari mimpi? Kami bermimpi, Indonesia menjadi bangsa yang mencintai rakyatnya, sama besarnya dengan cinta rakyat kepada negaranya.

Manusia itu spesial. Mereka diberi kemampuan untuk menentukan pilihan. Kita bukan boneka Tuhan. Memang, kita digerakkan oleh takdir, tetapi tidak ada yang tahu pasti takdir apa yang menunggu kita. Itulah mengapa kita diberi kebebasan untuk mengejar mimpi dan membangun diri sebaik-baiknya. Suatu saat, kita akan bersyukur atas kegagalan yang kita alami."

Dikutip dari Esensi Kegagalan oleh Hazna Nurul Faiza. 

Kamis, 07 Maret 2013

"Jika kalian banyak menoleransi diri sendiri, tubuh kalian akan terbiasa ditoleransi." -AAJ

Senin, 04 Maret 2013

Move!

Bismillahirrahmanirrahiim.

Untuk Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEUI 2013.
Untuk 7th National Folklore Festival.
Untuk Maker FEUI 2013.
Untuk musyawarah KOMPeK 16.
Untuk Sinofest UI 2013.
Untuk Student Research Days FEUI 2013.
Untuk sahabat-sahabat yang setia di sisi.
Untuk almamater sekolah nomor satu di kota patriot.
Untuk almamater makara abu-abu kampus kuning tercinta.
Untuk mama dan papa.
Untuk Bangsa Indonesia.
Untuk Tuhan Yang Satu, Allah SWT.

"Maka bergerak adalah sebuah keniscayaan."

Selasa, 05 Februari 2013

"Tujuh Tahun"

"Selamat malam kamu.

Entah, malam ini terkhayal tentang kamu, yang padahal belum kumengerti bagaimana mengkhayalkanmu. Entah, malam ini terbayang akan kamu, yang padahal belum kupahami bahkan bayanganmu.

Kamu yang sering kubayangkan dan khayalkan, apa kau juga satu pikir denganku saat ini? Penuh tanya akan aku yang juga belum kau tahu siapa aku? Ah, aku saja mungkin yang terlalu tidak sabar melihat rupamu.

Kamu yang belum kutahu kapan kita dipertemukan, berada dimana kamu sekarang? Sudahkah berada di jalan untuk saling menemukan? Kalaupun belum, tak apa, nikmati saja dulu. Kalaupun masih singgah, pun tak apa, toh kita masih punya banyak waktu. Datanglah jika hatimu sudah utuh, karena aku tidak akan pernah izinkan kau berbagi. Dan menetaplah jika hatimu sudah nyaman, karena aku bukan lagi tempat singgahmu nanti.

Kamu yang belum kutahu bagaimana cara Tuhan pertemukan kita, jangan paksa Tuhan untuk cepat beritahu jalan kita. Tuhan bisa saja pertemukan kita dengan jalan yang tak disengaja, tak diduga. Yang kuyakin cara-Nya tak akan pernah salah. Tak apa, bukan, bila sedikit tak terduga jika bukakan jalan terindah?

Kamu yang belum kutau asal-usulmu. Ah, kau pasti orang yang sangat spesial nanti, yang akan merangkap menjadi segalanya untukku. Yang bersedia kubuat jengkel dengan tingkahku setiap harinya. Yang bersedia kubuat gemas dengan suasana hati tak tentuku tiap si bulan datang. Yang bersedia kuganggu lelapnya saat buah hati kita menempati perutku yang nantinya kian membesar. Yang bersedia untuk selalu ada.

Kamu yang belum kutahu bagaimana rupamu, jangan pernah putus asa dalam jalanmu menuju takdir kita. Aku tahu tidak ada jalan hidup yang mudah, tapi bolehkah jadikan aku, masa depanmu, sebagai alasanmu untuk segera bangkit tiap jatuhmu? Ketekunan, kesabaran, fokus, atau motivasimu, tak bisakah aku menjadi bagian dari antara itu? Dapat kujanjikan hari nanti di sisimu lewati setiap naik turunmu. Setiaku mendekap, sediaku mengangkat. 

Kamu yang belum kutau namamu, mari benahi diri di sepanjang jalan saling menemukan. Kau persiapkan dirimu, dan aku memantaskan diriku. Bersediakah?

Kamu yang entah siapa kamu. Hal seperti apa yang kau pinta dariku? Aku hanya dapat janjikan hal kecil mungkin, tak apa? Membangunkanmu di setiap pagi dengan senyuman, agar kau mulai harimu pun dengan senyuman. Ibadah subuh berjamaah, sudah pasti kau imamnya. Ah, kau pasti imam terbaikku nanti. Siapkan baju kerjamu, rapikan kemejamu, dan pakaikan dasi untukmu, tak peduli kau bisa atau tidak kerjakan semua itu, aku hanya ingin tangan kecilku berguna untukmu. Menyiapkan asupan pagimu yang akan beri tenaga harimu mencari nafkah, tidak akan kuizinkan kau keluar mencari nafkah jika perutmu kosong. Lalu kulanjutkan dengan mengantar si kecil menuntut ilmu. Ah, dia pasti sangat lucu dengan seragam sekolahnya. Dan jika matahari mulai menantang di atas kepala, akan kuingatkan kau sudahi dulu urusanmu, dan pikirkan badanmu dengan asupan siangmu. Akan kumasakkan untukmu jika kau ada waktu pulang ke rumah sebentar untuk makan denganku dan anak-anak. Dan malam hari nanti saat kau pulang, kupasti siapkan senyum termanisku sambut kau yang pasti lelah bekerja, sudah ada teh hangat untuk kau minum, dan air hangat untuk kau mandi. Sementara kau mandi, aku membacakan dongeng sebentar untuk si kecil agar dia terlelap karena esok pagi dia masih harus pergi sekolah. Dan sisa malam akan kudengarkan keluh dan riangmu ceritakan bagaimana sepanjang harimu berjalan. Kusiapkan dekapku untuk setiap keluhmu, dan senyum bahagiaku untuk setiap riangmu. Dan kita pun menjadi sepasang yang saling selalu ada.

Kamu yang belum kutahu apa kesukaanmu, jika aku meminta sesekali bersenang-senang, bolehkah? Kita dan anak kita menapaki sisi bumi lain untuk nikmati keindahan dan waktu bersama tanpa ganggu. Mengganti penat dengan hangat. Boleh?
Jangan khawatir, akan kusesuaikan dengan kemampuan kita. Tak akan kupinta yang kita tak punya, anggap saja ini janjiku.

Kamu yang saat ini belum datang, mari saling sempurnakan masing-masing yang tidak sempurna nanti. Imanmu, kuandalkan untuk sempurnakan imanku. Wawasanmu, kuandalkan untuk sempurnakan pikiranku. Logikamu, kuandalkan untuk seimbangkan hatiku. Lenganmu, yang kuandalkan menjadi sandaran lelahku. Dekapmu, yang kuandalkan menjadi penenang resahku. Bahumu, yang kuandalkan menjadi tempat merebah manja. Dan senyum dan suaramu yang kuandalkan menjadi penyemangat hariku.

Kamu yang telah Tuhan persiapkan untukku, tak perlu kau tergesa-gesa, aku akan menunggu hari dimana kau datang dan membawa bingkisan berupa bahagia dan senyum termanismu. Namun ketika aku yang tidak akan lelah menunggumu ini sedang berdoa agar kau tidak tersesat, pastikan dirimu agar hatimu yakin akulah tujuan terakhirmu.

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk kau persiapkan diri, namun bukan pula waktu yang panjang untuk kau mencari.
Sampai jumpa nanti!

Tertanda, Rumahmu."


Dikutip dari posting "Tujuh Tahun" oleh Nadia Anindya. 

Adik kambingku satu ini, ternyata puitis. Ya, siapa dulu kakaknya? Terima kasih sudah mengingatkan.  

Minggu, 25 November 2012

A Letter From SY

"Dear my sweetest Lolly...

Rumah Dorothy diterbangkan oleh angin dari padang rumput Kansas ke sebuah negeri bernama Oz. Tapi Lolly, meskipun Oz adalah negeri yang indah, Dorothy tetap ingin pulang. 'Tak ada tempat senyaman rumah,' katanya. Namun, untuk kembali ke rumah, perjalanan Dorothy tidaklah mudah. Banyak rintangan menyulitkan yang harus dilalui si kecil Dorothy.

Sama seperti Dorothy, my sweetest Lolly...

Kita berada di tempat yang lebih baik sekarang, namun kita tetap ingin 'pulang'. Rumah selalu jadi tujuan akhir kita. Segelas susu hangat, selimut woll, dan aroma rumah yang khas adalah semua yang kita rindukan darinya.

Lolly, kita semua sama-sama berada dalan sebuah perjalanan, perjalanan pulang yang panjang... Kadang terik, kadang hujan, kadang sendiri, banyak hal-hal tidak terduga kita temui dalam perjalanan pulang. Tapi beginilah hidup Lolly, suatu saat kita akan tiba di rumah, tempat yang kita dambakan, dan suasana yang selalu kita impikan.

Selamat menempuh perjalananmu, Lolly-ku...

Delapan belas tahun bukan usia yang sebentar, namun perjalanan pulang mungkin masih akan lebih panjang dari itu. Semoga Dorothy kecil bisa menjadi teman perjalananmu, Lolly-ku. Ia gadis cilik yang pintar, sama sepertimu. Segera pulang, Lolly. Aku dan semua orang yang mencintaimu menunggu di rumahmu kelak.

Happy sweet 18th, my sweetest Lolly♥"


Ditulis oleh teman baik Dorothy, SY.

Sinergi

Jadi ceritanya.... salah seorang temen SMA gue yang sekarang di SBM ITB dateng jauh-jauh ke Depok buat nonton event FE, JGTC. Dan implikasinya, jadilah dia menginap di kostan gue. Dan gue jadi gak belajar. HUFH. Terima kasih, Jihan Syifania Mandagie.

Sepanjang tadi Jihan cuma ngerecokin gue di kamar. Minta-mintain lagu dari laptop, nge-net gak jelas, dan surfing kita berakhir di situs sejuta umat manusia, Youtube. Jihan melimpahi gue dengan film-film buatan Liga Film Mahasiswa ITB, which are keren abis. Sweet sih, sebenarnya.

Nah, ini yang paling keren!


OSKM ITB 2012


Gue mengagumi 'jargon' ITB sejak dulu, 
"Salam Ganesa, bakti kami untukmu, Tuhan, Bangsa, dan Almamater."

Dahulu, senior-senior SMA gue yang udah duluan di ITB pernah memperagakan salam tersebut di sekolah pada suatu kesempatan. Sayangnya gue gak bisa lihat langsung waktu itu. Bahkan, gue, yang cuma diperagain sekenanya diceritain sama temen, merinding. Dan menonton video di atas, gawat. Lebih-merinding-lagi.

Mereka keren. Gue gak peduli jika ada salah satu, dua, tiga, atau beratus-ratus dari mereka yang melakukan salam itu dengan terpaksa. Seterpaksa-terpaksanya mereka, gue yakin hati mereka tergerak. Dan gue iri akan hal itu. Di dalam lautan manusia tersebut ada sahabat-sahabat gue yang untuk bisa sampai di sana berkorban mati-matian. Gue tahu betul mimpi mereka, dan gue tahu mereka ada di jalan paling tepat menuju impian mereka saat ini. Dan kami sudah berjanji, setelah empat tahun, kami akan kembali ke sisi masing-masing untuk mewujudkan mimpi kami bersama-sama.

Dan, Indonesia tidak hanya memiliki ITB. Jutaan pelajar, mahasiswa dari Sabang hingga Merauke menunggu saat mereka untuk berkontribusi. Sayangnya, universitas di Indonesia hampir semuanya mementingkan ego masing-masing, berlomba-lomba membentuk image bahwa mereka lah yang terbaik. Pertama kali masuk kuliah, bukan sekali dua kali gue mendengar "kalian itu putra-putri terpilih" "mana lagi universitas yang menyertakan nama bangsa selain kita? Kalian itu harapan bangsa!" "jangan mau kalah dengan mahasiswa universitas lain!"

Jengah.

Salah satu teman gue yang sekarang di SAPPK ITB menceritakan pengalaman OSKM-nya tidak lama setelah acara tersebut berakhir. "Seru sih Haz keren gitu, tapi kenapa ya gue ngerasanya ITB arogan... Putra-putri garuda, putra-putri terbaik bangsa, seakan-akan yang lain gak lebih baik."

Oh, masalah bersama tampaknya. Setidaknya gue bersyukur masih ada orang seperti dia yang sadar, man this is not right. Absolutely not. Indonesia kapan maju kalo tonggaknya aja masih jalan sendiri-sendiri? Masih saling mandang satu sama lain sebelah mata?

Nama gue Hazna Nurul Faiza. Dan mimpi gue "melakukan sesuatu untuk bangsa ini" dengan sahabat-sahabat gue di sesama UI, ITB, UGM, Unpad, Unbraw, dan seluruh universitas nusantara. Suatu saat nanti, hopefully.

Sebenarnya gue malu nulis ini di saat gue pribadi belum menyiapkan apa-apa buat kuis besok. Start the change from yourself before you do it for others, they say.


Sabtu, 24 November 2012

May Contain Compassion

"Tak tahukah kau seperih apa perasaan hati yang tak terbalas? Menanti sesuatu yang tak kunjung datang? 

Hari berganti hari tetapi arah hati ku tak pernah berubah—selalu tertuju kepadamu. Aku tak pernah jenuh menunggu... menunggu untuk kau cintai. Namun, kau hanya menganggapku lalu. Seperti tak kasat mata aku bagimu. 

Terkadang lelah menyuruhku menyerah, memintaku berhenti melakukan perbuatan sia-sia dan mulai mencari cinta baru. Namun, bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya?  Kalau semua tentangmu mengikutiku seperti bayangan yang menempel di bawah kakiku? Dan bagaimana pula caranya membakar habis semua rindu yang berbulan-bulan mengendap di hatiku? 

Aku berharap mendapat jawaban darimu. Namun, kau tetap membisu, membuatku lebih lama menunggu."

Good words, right? Siapapun yang membacanya pasti akan terenyuh, tidak peduli apakah dia sedang menunggu atau tidak.

Saya tidak dalam mode ingin bercoleteh mengenai hal-hal macam ini. Tidak sekarang, saat saya sedang diburu what-so-called quizzes-related stuffs untuk senin esok... Tetapi, siapapun kamu di luar sana yang sedang menunggu, jadikan momen tersebut untuk menjadi sebaik-baiknya dirimu. Sehingga jika orang yang kamu tunggu tidak kunjung menolehkan wajahnya padamu, seseorang lain yang lebih baik justru akan datang padamu.

Selamat berhari Minggu!