Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juli 2013

"If you could do magic, what part of this Nation will you change?"

Well, Dinar. I don't really think I have a proper answer for this question.

Negara ini tidak pernah ditakdirkan miskin, satu hal yang saya percaya. Namun, ada frase yang hilang. Biasanya kalimat tersebut diikuti "...tetapi berada di tangan yang salah."

Hei, dulu saya salah satu orang yang meyakini mati kalimat tersebut. Pikiran dan hati saya menggebu-gebu ketika memikirkan negeri ini, membayangkan how great this nation is gonna be ketika generasi saya--kita--memimpin. Saya begitu merasa percaya diri, seolah-olah tangan saya bukanlah satu dari 'tangan yang salah' tersebut. Kemudian...

Saya mulai bertemu orang-orang hebat. Akademisi. Politisi. Pengusaha. Menteri. And know what? Saya mulai berpikir dua kali. Mereka orang yang hebat, benar-benar hebat. Mereka pintar, kritis, visioner, tulus, lontarkan saja semua pujian. Lalu, bagaimana mungkin negeri ini masih seperti ini di tangan mereka? Di tangan orang yang, setelah saya temui, saya yakini bukan tangan yang salah.

Naif sekali, pikir saya, jika saya pikir tangan saya lebih 'benar' daripada mereka. Ada ungkapan lain yang bilang, "Semua orang pintar di Indonesia sudah dan akan pergi. Jika Anda masih tinggal karena merasa dapat merubah negeri ini, maka Anda adalah orang yang naif." Dulu saya mati-matian menentangnya. Dan kini, semakin banyak tahu, saya pun kembali berpikir dua kali.

Apakah saya orang yang naif? Untuk berpikir tangan saya mampu memangku 240 juta penduduk dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote? Untuk memimpikan diri saya bertahan di negeri ini, dengan harapan membawanya ke arah yang lebih baik? Saya yang dulu akan menjawab, tidak, saya bukan orang yang naif. Berpikir seperti itu bukanlah hal yang naif.

Saya yang sekarang akan menjawab, ya, saya orang yang naif, tetapi saya tidak peduli.

Saya yang dulu hanyalah bocah yang terbuai mimpi, yang polos, yang tidak tahu apa-apa. Sekarang, bukannya saya tahu segala hal, hanya saja saya mulai dapat melihat dan merasakan apa itu keputusasaan yang dibawa sesuatu bernama realita. Saya sempat ingin menyerah dan mencoba realistis, ayolah buka mata! Merubah negeri ini bukan hal yang mudah. Hingga salah satu sahabat saya berkata,

"Dihadapkan dengan yang seperti ini, bukannya sudah banyak yang menyerah? Kalau menyerah sekarang, apa bedanya kamu dengan mereka?"

Saya pun mulai hilang arah dan mencari kembali diri saya yang dulu, si bocah penuh harapan. Dan, tara! Saya menemukan ini, beberapa bait dari pidato saya di kelas Bahasa semasa kelas 3 SMA dulu.

"...Bayangkan hal ini terjadi pada beribu-ribu keluarga lain. Warga komplain, pemerintah tidak menanggapi, warga kehilangan kepercayaannya, warga apatis. Bukannya siklusnya akan seperti itu? Di saat yang sama, warga lain turut menyalahkan pemerintah. Entah mengenai reshuffle kabinet, pembebasan walikota Bekasi dari jerat korupsi, kerusuhan Freeport, ataupun berbagai kasus lainnya. Alih-alih pemerintah sadar atas kicauan warganya, dengan santai mereka membalik keadaan dengan melontarkan kalimat bijak JFK, 'Don't ask what your country can do for you. But ask what you can do for your country.' Pada akhirnya, siapa yang patut dipersalahkan? Pertanyaan yang tidak perlu dijawab, tentu karena pertanyaannya saja sudah salah.

Bangsa ini baru akan kokoh apabila para pemimpinnya mulai memberi dan berhenti meminta pamrih, sementara rakyatnya berhenti menyalahkan dan mulai berkontribusi.


Pertanyaan yang sebenarnya, kapan kita mau memulai?"

Saya melupakan diri saya yang pernah menulis demikian. Saya melupakan problema mayor di Indonesia yang ditemukan oleh diri saya yang penuh harapan dan optimisme. Diri yang jauh berbeda dengan saya yang sudah cukup menelan realita pahit.

Sekarang saya tahu kondisinya. And I don't wanna lose my faith. I choose to live my old dream, meskipun hal tersebut akan membuat saya terlihat naif.  
And I'll definitely make it real.
Tidak, saya tidak merasa memiliki tangan yang 'benar'. I will just simply struggle to have one, that's worth a try, isn't it? Ya, saya naif karena tidak pernah sekalipun terpikir di benak untuk tinggal di tanah orang lain. Tapi saya adalah orang yang akan membuat mereka yang telah pergi merasa lebih naif, karena apa yang mereka harap akan dapat di luar sana tidak akan lebih besar dari apa yang akan mereka dapat apabila tinggal. Merasa naif untuk mencari keluar sesuatu yang sebenarnya negeri ini dapat beri lebih.

I'm currently facing the real world.
I have once lost hope.
I have once given it up.
But I believe, this should be right.
To gather new hopes,
And make it happen.
I'm not afraid anymore.

--

 

Harapan.

That's my answer, Din.

Kamis, 04 Juli 2013

Mati

Di saat saya sedang ingin ini itu.

Milyaran sel dalam otak sibuk mengkalkulasi cara tercepat yang dapat ditempuh.


Di saat mata dibutakan duniawi, hati jauh dari Sang Khalik.

Cepat kulaksanakan sembahyang, lisan tak sedia lantunkan ayat Qur'an.


Di saat hidup sedang datang tanpa makna.

Buang apa yang kausebut tujuan, mimpi, visi, cita-cita.


--

Di saat yang sama, jerit isak menyeruak. Kupertajam dengar untuk mencari tau alasan lengkingan-lengkingan tersebut. Katanya ada yang meninggal.

Coba gerakkan kakiku yang terlanjur kaku. Bukan saja kaki, tapi raga. Ragaku menolak untuk bergerak. Terpana kulihat pemandangan di depan mata: seorang wanita baya tergopoh-gopoh datang berlinang air mata, berteriak menghampiri wanita muda yang begitu dengar membalas dengan jeritan pula. Keduanya kemudian berlari, menghilang dari jangkauan mata, menangis.

Wanita baya itu saudari nenekku, sementara wanita muda yang dijemputnya adalah menantunya. Keduanya menangis karena menantu wanita baya yang lain, istri dari ipar si wanita muda, berpulang ke sisi Yang Maha Kuasa. Keduanya tinggal bersama keluarga besar mereka di samping rumah nenek, yang tidak berapa lama kemudian memperdengarkan jerit yang berbeda. Jerit yang lebih menyayat; jerit anak-anak yang kehilangan ibunya.

Namanya Teh Emi. Ya, meski seharusnya aku memanggilnya bibi, aku lebih suka memanggilnya demikian. Ia seorang ibu muda dari lima anak yang tangguh. Ia banting tulang, mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan untuk membantu suami menghidupi keluarga mereka. Seorang wanita yang ramah, namun tegas. Sosok yang mampu mendidik anak. Ketika ia menawarkan barang jualan ke rumah-rumah, ia bawa dua anaknya yang paling kecil. Yang satu dalam gendongan, yang satu ia tuntun ketika berjalan. Beda usia keduanya tidak begitu jauh. Aku tidak begitu ingat siapa saja anak-anaknya. Hanya yang paling besar yang paling kukenal, karena dulu adikku sering bermain dengannya. Kubayangkan jerit tadi keluar dari lima anaknya yang masih kecil, yang tertua saja SD belum rampung.

"Sekarang abang nggak punya ibu."

Kudengar nenek bercerita mengenai isak Naufal, yang biasa dipanggil Abang, anak lelaki Teh Emi yang tertua. Nenek menjawab Abang dengan halus, "Nabi Adam saja tidak punya ibu."

Anaknya yang tertua kedua (atau ketiga), Syamil, menjerit-jerit meminta jenazah sang ibu diantar dari Depok untuk dimandikan dan dikuburkan di kampungnya. Teh Emi yang syarafnya terjepit dirawat di Depok berminggu-minggu, tak sadarkan diri. Aku pun baru mengetahui hal tersebut kemarin, itupun sekilas dan hanya tahu sebatas beliau dirawat, tanpa tahu apa penyakitnya dan bagaimana keadaannya. Sungguh kukira hanya penyakit biasa, karenanya kuanggap berita tersebut angin lalu.

Teh Emi masih mengunjungi rumah nenek saat lebaran tahun lalu, masih terlihat begitu sehat dan bersemangat. Aku masih tidak percaya beliau tidak akan datang lagi di lebaran mendatang. Miris kubayangkan lima anaknya datang tanpa ibu mereka, memakan ketupat dan daging yang meskipun menjadi makanan mewah bagi mereka, mungkin akan terasa hambar. Sedih kubayangkan mereka menyuap sendiri makanan mereka, dan bisa jadi bergantian menyuapi adiknya yang paling kecil. Kepergian Teh Emi menggenapi kepergian orang kepercayaan nenek sejak dulu, Matisah, yang telah lebih dahulu pergi di tahun ini. Matisah sudah bekerja untuk nenek bahkan sebelum aku lahir, dan aku menghormati dan menyayanginya seperti nenekku sendiri. Kepergiannya yang lalu masih menyisakan perih yang sama sepanjang aku mengingatnya.

Di lebaran berikutnya, mereka berdua tidak akan datang.

Rasanya begitu cepat, namun nyata. Aku adalah salah satu dari mereka yang tidak pernah merasakan kepergian orang terdekat sejak aku dapat mengingat. Kini hatiku dipenuhi rasa takut, apa jadinya aku bila suatu saat hal ini terjadi dalam lingkaranku? Satu per satu akan pergi, that's obvious, that's only a matter of time. Tapi, siapa yang akan mendahului siapa? Aku terlalu takut untuk membayangkan. Masih banyak yang dapat terjadi hingga lebaran mendatang, dan lebaran berikutnya, lalu berikutnya lagi. Aku hanya bisa berharap kami dapat merayakannya dengan lengkap.

Kematian, dan apa yang akan terjadi setelah itu, meski sudah jelas diungkapkan dalam Al-Qur'an, tetap masih misteri bagiku. Berbahagialah Teh Emi dan mereka yang beruntung mendapat kemuliaan meninggal di hari Jum'at; kematian yang didambakan seluruh umat Nabi Muhammad.

Kini aku kembali diingatkan tujuanku dihidupkan di dunia. Untuk mati, ya, aku hidup untuk mati. Namun, apa yang kita dapat ketika mati, bergantung pada apa yang kita beri di dunia.

Rasanya kembali pula aku diingatkan cara bersyukur. Untuk apa harta kekayaan, gadget canggih, mobil dan rumah mewah, pakaian mahal, bila tak mampu cukupkan bekal untuk nanti mati?

I just want to give more,
To love more,
To cherish more,
To struggle more,
To hope more,
To do more,
To live every second of my life, meaningfully.
To not give up even a single little thing.

Terima kasih, Teh Emi, atas segala yang kau berikan selama hidup. Dan atas pelajaran berharga yang kau tinggalkan, bahkan ketika pergi. Semoga segala kebaikan dan amal ibadahmu diterima di sisi-Nya. Tenang, ya, di sana.

Senin, 10 Juni 2013

Seberapa Pantas, Wahai Pemimpin?

"Tidak ada seorang pun pemimpin yang merasa pantas menjadi pemimpin."


Sebuah prinsip yang saya pegang, setidaknya selama empat tahun belakangan. Alasannya? Pertama, saya dihadapkan pada kondisi kepemimpinan di Indonesia dari contoh yang paling sederhana: Pilpres. Dua tahun sebelum masa pemerintahan inkumben usai, sudah ada yang berani mendeklarasikan kesiapannya untuk maju ke bursa pencalonan. Berlomba-lomba pencitraan, di saat, beberapa dari mereka bahkan masih memegang posisi penting di lembaga pemerintahan. Dan calonnya? Itu lagi, itu lagi. Yang sudah pernah menjabat, lalu lengser, mencalonkan lagi. Yang sejak dulu gagal, pun, kembali mencalonkan diri.

Sebegitu merasa pantasnya kah mereka?

Carut-marut. Jika semua orang dalam sistem ingin menjadi pemimpin, siapa yang tersisa untuk dipimpin? Masih tentang fenomena pilpres, anggap, satu calon akhirnya terpilih menjadi presiden. Yang selalu terjadi, sejak dulu hingga sekarang, keberasilan presiden tersebut akan selalu menggiring mereka yang terkalahkan ke pencarian celah. Contoh yang paling sederhana (lagi)? Media. Seberapa sering Anda mendengar media membawa berita keberhasilan pemerintahan? Setiap detik, setiap saat, rakyat disuguhkan dengan isu yang sama. Korupsi. Kemiskinan. Ketidakmerataan pembangunan. Lalu, ketika pemerintahan gagal? Lebih-lebih lagi. Hujatan di mana-mana, dan yang "termenggelikan", kritik tidak hanya ditujukan untuk konteks kinerja. Kepribadian, pun, menjadi bahan gunjingan. Ya, media. Alat paling mudah untuk menjatuhankan pemerintahan. Apalagi, media yang paling vokal hingga saat ini, tahu sendiri, milik siapa. Jangankan pemerintah, rakyat juga gerah.

Kembali lagi dalam konteks kepemimpinan. Apabila mereka, orang-orang yang merasa pantas menjadi pemimpin itu, tulus ingin membawa negeri ini ke arah yang lebih baik, mengapa harus selalu menjadi yang kontra? Berbicara di luar kepentingan politik--jika memang pemerintah benar, mengapa tidak dibantu sebagai upaya penyempurnaan sistem? Lain hal jika memang pemerintah salah, silakan dikritik, bukan dijatuhkan. Mau tetap menjatuhkan? Boleh, asal bawa solusi.

Oke...... Sejujurnya ini sudah amat melenceng dari tujuan awal saya menulis. Intinya, ketidakpuasan saya akan negara-yang-dipimpin-oleh-mereka-yang-merasa-pantas-menjadi-pemimpin itulah, yang membentuk stigma saya mengenai pemimpin. Namun, jika semua pemimpin merasa tidak pantas menjadi pemimpin, lalu siapa yang akan menjadi pemimpin?

Hal tersebut saya temukan jawabannya ketika SMA. Seorang sahabat saya, yang memiliki kapabilitas luar biasa sebagai pemimpin, menolak untuk maju dalam pemilihan ketua suatu organisasi. Padahal, satu isi sekolah tahu jelas bahwa hanya dia satu-satunya orang yang mampu memimpin pada saat itu. Hingga akhirnya, semua orang bersuara untuknya. Satu per satu mendatanginya, bahkan memohon padanya. Kurun waktunya cukup lama sampai ia akhirnya memutuskan untuk maju. Dan, hasilnya, menang mutlak.

Dia selalu mengatakan kepada saya bahwa ia tidak pernah merasa pantas menjadi pemimpin. Meskipun, sebenarnya, sejak awal dia memiliki gambaran konsep dan nilai-nilai yang ingin ia terapkan dalam organisasi yang bersangkutan. Hanya saja, menjadi pemimpin organisasi tersebut adalah hal yang jauh dari ekspektasinya. Jauh sekali, hingga akhirnya ia disadarkan oleh sekian banyak orang yang menaruh harapan padanya, yang mempercayainya, yang membutuhkannya. Dan pada akhirnya, ia mendengarkan apa yang mereka katakan dan apa yang ada dalam hatinya. Dan jadilah ia, pemimpin terbaik yang pernah saya temukan, hingga saat ini.




Maka, jadilah pemimpin adalah seorang yang tidak pernah merasa pantas dirinya menjadi pemimpin. Hingga dia memutuskan untuk mengalahkan rasa rendah dirinya, untuk rakyat yang menaruh harap padanya.

Itulah definisi pemimpin yang teguh saya pertahankan hingga... saya dihadapkan pada realita kampus.

Kasus sahabat saya di atas, mungkin contoh satu dari seribu kasus. Di mana, jumlah pemilik hak suara cenderung lebih sedikit, dan interaksi memungkinkan mereka untuk mengenal sosok calon pemimpin lebih efektif. Tetapi bagaimana dengan kampus, lingkungan yang jauh lebih besar dan plural? Bisa jadi ada seorang yang potensial, yang sejak awal merasa dirinya tidak pantas menjadi pemimpin, akhirnya justru lebih memilih untuk diam. Sulit baginya untuk mengetahui seberapa pantas dirinya dari sudut pandang orang lain karena, kembali lagi, lingkungan yang begitu luas--suara tidak akan dapat ditampung apabila ia tidak vokal menyuarakan kesiapannya. Pada akhirnya, seorang pemimpin harus memiliki kepercayaan akan dirinya sendiri sebelum membuat orang lain percaya padanya. Kini, pandangan saya tidak lagi negatif pada mereka yang maju dalam pencalonan.

Ada satu hal yang saya percaya sampai mati: amanat tidak pernah salah memilih tuannya. Jika amanat memilihmu, maka kau memang ditakdirkan mampu. Dan saya yakin, siapapun yang maju dari hatinya, dengan niat yang tulus untuk membawa perubahan yang lebih baik, dia lah sosok pemimpin yang dicari.

Semoga Indonesia tidak pernah kehabisan generasi pemimpin yang demikian.

Selasa, 04 Juni 2013

Satu Tahun

Setahun lewat sudah sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di dunia yang sama sekali baru. Sejak satu per satu, termasuk saya, menaikkan jangkar kapal sendiri. Kemudian mengembangkan layar, memegang kemudi. Menjadi kapten sekaligus awak, memberanikan diri mengarungi apa yang mereka sebut... Samudera Kehidupan.

Nobody told it was gonna be easy. And it really wasn't.

Tidak terasa, setahun pun seperti sekejap mata. Kini, sahabat-sahabat saya yang baru merasakan euforia menjadi calon maba, membawa kembali kenangan-kenangan itu. Semuanya masih amat jelas, terang. Dan saya ingin mengapresiasi diri saya sendiri, yang tak dapat disangka, masih dalam keadaan baik.

Seorang Hazna, yang selangkah pun tidak dapat jauh dari malaikat-malaikatnya, yang setiap detiknya membutuhkan orang untuk bersandar, yang cengeng, manja, dan kelewat peka. Tidak pernah terbesit sekalipun untuk berkeliaran sendiri, ke mana pun mandiri, bahkan tidak lagi miliki keinginan untuk berbagi. Ya, tidak ada lagi suka duka yang dibagi.

Bukan karena tidak bisa, tetapi tidak mau.

Hei, ada yang pernah merasakan ini? Ketika Tuhan memberimu sesuatu yang....... kau pikir, tidak pernah benar-benar ada. Dan andai pun ada, kau jadi bertanya-tanya, pernahkah diri melakukan sesuatu yang luar biasa baik? Sehingga Tuhan memilihmu untuk memilikinya? Dan ketika, Ia mengambilnya kembali. Tidak, tidak selamanya. Hanya sementara. Tetapi egomu, membutakan mata hatimu dari rasa syukur. Sejauh yang kau pandang hanya kehampaan. Semakin kau mencari, semakin kau hampa. Semakin kebahagiaan mendekat, semakin kau tolak mentah-mentah. Karena, sederhana, kau pikir kebahagiaan sejati hanya ketika mereka kau miliki.

And it's not bad memories hurt, good ones do.


*taken when Tiara was in US*

Mereka, kesempurnaan dari keluarga yang sudah saya miliki sejak lahir. A home.


Hei, mau tau hal paling luar biasa apa yang dapat dimiliki seorang manusia? Hati yang mencinta. Hati yang selalu ingin membuat yang dicinta bahagia.

Hei, mau tau sesuatu?

Saya mendapatkannya kembali, akhirnya. Hati yang dulu diperuntukkan untuk mereka, kini menambah kapasitasnya untuk orang-orang yang semula asing.

Kamis, 23 Mei 2013

Andai

Antipati.

Andai mereka manusia tanpa kekurangan.
Andai kekecewaan ini dapat ditelan
Andai memori dapat dihilangkan
Andai luka tak lagi perlu dipandang

Hanya berandai
Hanya bertanya
Siapa yang benar-benar dipunya?

Senin, 11 Maret 2013

Hasta Siempre, Comandante

Well, this is my very first writing as a staff. You can read others either by clicking Kastrat BEM FEUI's official blog page or simply following this site. Sorry for any error occured, I'm currently learning. Happy reading!

Oleh: Hazna Nurul Faiza

58 tahun yang lalu, sesosok bayi keturunan kaum papa pinggiran lahir di Sabaneta, Venezuela. Enam tahun setelahnya, menyadari tidak ada lagi yang dapat keluarganya makan, ia turun ke jalan mencari nafkah dengan berjualan permen. Jika kemiskinan diibaratkan sebagai samudera ganas yang menempa seorang nelayan menjadi pelaut yang handal, bisa jadi kemiskinanlah yang membuat bocah tersebut menjadi tokoh dunia abad ke-21. Ialah dia, satu-satunya pemimpin yang menyebut mantan presiden Amerika Serikat, George W. Bush, sebagai iblis pada Majelis Umum PBB tahun 2006, di saat seluruh dunia bertekuk lutut di bawah kekuasaan Paman Sam. Ialah dia, yang berani mengusir Duta Besar Israel bagi Venezuela segera setelah negara tersebut melanggar resolusi PBB mengenai sengketa dengan Palestina. Ialah dia, yang mampu mengentaskan kemiskinan rakyat Venezuela lebih dari 75% dalam 10 tahun pemerintahan. Ialah dia, yang kematiannya menimbulkan pergerakan kenaikan harga minyak dunia sebesar 0.6 dollar per barrel. Ialah dia, yang dikatakan Presiden Barzil, Dilma Roussef, sebagai pemimpin bagi Amerika Latin. Ialah dia, yang kehadirannya di muka bumi disamakan dengan tokoh legendaris Simon Bolivar. Ialah dia, yang menghentikan “penindasan” kapitalisme hasil dominasi elite kulit putih selama ratusan tahun hingga dekade 1990-an di negeri penghasil minyak kedua terbesar di dunia. Ialah dia, Hugo Chavez.

“Harus mengalami penderitaan rakyat untuk dapat menjalankan pemerintahan yang memahami rakyat.”

Mungkin hal tersebutlah yang dialami Hugo Chavez, pelopor kepemimpinan sayap kiri di Amerika Latin. Kemiskinan yang menjerat keluarganya dan jutaan rumah tangga lain keturunan kaum papa—mayoritas terpinggirkan di Venezuela—membuatnya hidup dengan satu impian akan perubahan. Ia pertama kali menapaki perjalanan menuju mimpinya dengan masuk Akademi Militer Venezuela dan lulus pada tahun 1975. Selama belasan tahun ia berkarier sebagai penerjun payung dan guru akademi, selama itu pula ia mengkritik keras setiap tindak-tanduk kebijakan penguasa Venezuela. Ia pun kemudian melanjutkan studi ilmu politik di Universitas Simon Bolivar meskipun tidak sampai rampung. Puncaknya, pada tahun 1992, Chavez memimpin kudeta terhadap presiden kala itu, Carlos Andres Perez. Sayang, kudeta tersebut gagal dan ia pun berakhir di penjara meski hanya membutuhkan satu tahun hingga akhirnya Perez diberhentikan dari jabatannya. Lepas dari jeruji besi, Chavez mulai mengkampanyekan apa yang ia sebut “Bolivarianisme” dengan poin-poin inti seperti anti-imperialisme, swasembada ekonomi, dan kedaulatan Venezuela. Pendapatan negara melalui minyak bumi juga menjadi salah satu perhatiannya. Ia percaya bahwa apa yang dihasilkan dari bumi tanah airnya adalah hak warga negaranya yang harus terdistribusi secara merata.

Tindak-tanduk Hugo Chavez

Tahun 1998 menjadi tahun kemenangan Hugo Chavez dengan 56% suara. Ia memulai pemerintahan dengan mengambil kebijakan Pemenuhan Hak Dasar seperti pangan, sandang, dan papan. Ia menyelamatkan rakyat Venezuela dengan memberantas kemiskinan yang sebelumnya 11,36% menjadi 6,79% dalam sepuluh tahun. The Great Housing Mission (GMVV) adalah kebijakan Chavez yang lain, di mana pemerintah menyediakan rumah untuk keluarga berpenghasilan rendah dan berpenghidupan tidak layak. Pada September 2012, pemerintahan Chavez telah berhasil memberikan lebih dari 250.000 unit rumah untuk warganya yang miskin. Penghematan saat krisis yang dilakukan hampir seluruh negara di dunia tidak ikut dilakukan Venezuela. Sebaliknya, negara tersebut melakukan belanja pemerintah besar-besaran untuk misi-misi sosial, seperti pemberantasan buta huruf, pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Chavez juga melucuti bisnis-bisnis hasil kerjasama dengan Amerika Serikat dan Eropa yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Itulah mengapa elite bisnis menjadi salah satu kalangan yang kerap berseteru dengan pemerintahan yang ia pimpin. Chavez tampil sebagai sosok yang menasionalisasi aset-aset perusahaan minyak internasional yang beroperasi di Venezuela. Bukan saja nasionalisasi, ia juga menurunkan angka ekspor hasil minyak negaranya yang pada awal tahun 2000 mencapai tiga juta barrel per hari menjadi tinggal 1,7 juta barrel per hari pada tahun 2011. Di sisi lain, ia berani mengganti nama negaranya menjadi Republik Bolivarian Venezuela.  

Nama Hugo Chavez tidak kalah sering disebut sebagai sosok yang sering melakukan manuver politik nasional maupun internasional. Presiden Venezuela ke-53 ini adalah pimpinan “Revolusi Bolivarian” yang merupakan titik balik pembelaan kaum miskin Venezuela dengan sistem sosialis yang kental. Meski dicap sebagai salah satu pemimpin haluan kiri, Chavez dikenal bukan sebagai sosok yang memperkaya diri dengan otoritas yang dimilikinya. Ia jauh dari karakter Husni Mubarak dari Mesir, misalnya, meskipun tidak dapat dipungkiri berbagai kebijakan yang ia hasilkan seringkali membuat pihak oposisi gigit jari. Upaya oposisi untuk menurunkan Chavez dari jabatan presiden sudah berkali-kali dilakukan, mulai dari referandum hingga kudeta. Namun tetap saja, suara rakyatlah yang pada akhirnya pun selalu mengembalikan Chavez ke tahta. 

Di mancanegara, Chavez terkenal bukan hanya sebagai pemimpin yang mampu membawa kemakmuran bagi negerinya, namun juga sosok yang kerap menimbulkan kontroversi. Dimulai dari gebrakannya membentuk “Gerakan Republik Kelima” yang berisi negara-negara penganut sistem sosialis demokratis—yang kemudian ia sebut sebagai “Sosialisme Abad 21”. Venezuela banyak membantu negara-negara yang memiliki garis sistem yang sama dengannya, sebut saja Kuba yang telah menerima bantuan milyaran dollar AS selama pemerintahan Chavez. Negara lain di kawasan Amerika Latin juga tidak lepas dari pengaruhnya. Bolivia menunjukkan penurunan angka kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan semenjak Evo Morales menjadi presiden di tahun 2006. Hal tersebut tidak lain adalah karena Morales melakukan nasionalisasi perusahaan yang sama dengan yang dilakukan Chavez. Dapat dikatakan, Chavez adalah mentor dan pendukung Morales di balik kemajuan Bolivia. Ia membangun aliansi yang kuat bukan hanya dengan negara yang secara eksplisit berpaham dan berkeyakinan sama, Iran misalnya. Belasan kali sudah Chavez mengunjungi presiden Iran, Mahmoed Ahmadinejad, dan terhitung enam kali pula presiden Iran mendatangi Venezuela untuk bertemu Chavez. Partner Venezuela berdatangan bukan hanya dari kubu Amerika Latin seperti Kuba, Argentina, Bolivia, dan Brazil, namun juga dari negara-negara muslim lain seperti Suriah dan Libya. Negara-negara Eropa, katakanlah Inggris, Spanyol, Italia, dan Portugal, dan blok sosialisme keras, Cina dan Rusia, pun termasuk ke dalam kubu Chavez. Untuk penduduk miskin dunia, Chavez menjatahkan 8% dari APBN Venezuela untuk segala investasi luar negeri, bantuan, maupun subsidi. Begitupun saat tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004, Venezuela memberikan bantuan senilai dua juta dollar AS. Petro Caribe adalah program pemerintah Venezuela yang ia ciptakan untuk membantu pemenuhan kebutuhan minyak negara-negara kecil di Karibia dengan jumlah 200.000 barrel per hari. Di sisi lain, Chavez juga membentuk ALBA dan CELAC sebagai blok yang akan melakukan pengentasan orang miskin sekaligus penolakan terhadap Amerika Serikat. Ia menolak perjanjian-perjanjian perdagangan kapitalis dan privatisasi. Gerakan Chavez yang terbilang berani inilah yang mampu membungkam negara adidaya semacam Amerika Serikat.

Pasca Meninggalnya Chavez

Iring-iringan sejauh delapan kilometer ditempuh warga Venezuela dengan berjalan kaki, tidak lupa disertai isak tangis. Tidak, bukan tangis yang dibuat-buat seperti yang terjadi di Korea Utara sepeninggalan pemimpinnya, tetapi tangis yang secara alami mengalir dari mata rakyat yang kehilangan sosok pemimpin. Rakyat yang kehilangan pemimpin yang berhasil mengambil hati mereka bukan hanya dengan orasi, namun juga bernyanyi dan menari bersama. Tidak hanya di negeri sendiri, dukacita dan belasungkawa mengalir dari berbagai belahan bumi—mulai dari Vladimir Putin hingga Barack Obama. Jangan heran jika Argentina dan Kuba menetapkan tanggal 5 Maret lalu sebagai hari berkabung nasional. Terlebih lagi, rakyat Amerika Latin menganggap kematian Chavez akan membawa perubahan yang tidak diinginkan di kawasan tersebut. Tepat sehari setelah meninggalnya Chavez, Presiden Bolivia Evo Morales, Presiden Argentina Cristina Kirchner, dan Presiden Uruguay Jose Mujica telah berada di Caracas, Venezuela. Meninggalnya Hugo Chavez membuat kondisi politik di Venezuela jadi tidak menentu. Rakyat, partai penguasa, maupun partai oposisi dibuat cemas akan proses transisi kekuasaan yang mau tidak mau telah berada di depan mata. Belum sampai seminggu, tindak kekerasan berbau politik sudah beberapa kali terjadi di Venezuela. Ketidakpastian juga terjadi dalam geopolitik migas yang menyebabkan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek meskipun tidak begitu signifikan. 

Meskipun begitu, meninggalnya Chavez tidak serta merta menjadi kesedihan untuk semua orang. Mereka yang sejak awal menaruh rasa tidak suka pada Chavez terang-terangan mengatakan bahwa kepergian Chavez justru akan membawa angin segar dalam perdagangan, terutama ekspor minyak yang menjadi komoditas utama Venezuela. Kepergiannya juga dianggap sebagai babak baru yang dapat meminimalisasi gerakan anti-AS di berbagai negara yang sebelumnya Chavez timbulkan. Beberapa mengatakan bahwa meninggalnya Chavez dapat membawa suasana yang lebih demokratis di Venezuela seiring penurunan pengawasan terhadap media dan penegakan peradilan hukum yang tidak dapat terlaksana di masa Chavez berkuasa. Adalah hal yang mungkin jika perusahaan-perusahaan asing kembali datang ke Venezuela untuk mengambil alih lahan yang sebelumnya direbut “paksa”. Kaum elite bisnis bisa jadi pihak yang digembirakan, Lorenzo Mendoza, misalnya. Dialah orang terkaya kedua di Venezuela, pemilik perusahaan bir dan bahan makanan yang kerap berseteru dengan Chavez. Pihak lain bisa jadi adalah orang terkaya di seluruh Venezuela dengan kekayaan senilai US$ 4,4 milyar, Gustavo Cisneros, yang stasiun tv miliknya dipaksa terus menawarkan konten hiburan selama Chavez menjabat. Kini, Cisneros bisa saja mengembalikan Venevision—stasiun tv terbesar dengan 67% pemirsa Venezuela—ke ranah politik. Berbagai kabar bermunculan seiring bertambahnya pemberitaan mengenai kematian Chavez dan pengusiran dua atase militer AS. Wakil presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengatakan bahwa kematian Chavez adalah hasil konspirasi musuh yang sebelumnya sudah dengan sengaja memasukkan virus kanker ke tubuh Chavez. Meski begitu, belum ada bukti yang cukup untuk menindaklanjuti tuduhan tersebut.

Indonesia dan Venezuela

Kebangkitan Venezuela dengan munculnya seorang figur memunculkan satu pertanyaan yang tidak terbantahkan: Kapan giliran Indonesia? Haruskah kita menunggu, atau menciptakan figur?

Revolusi Bolivarian adalah momentum bagi rakyat Venezuela yang selama ratusan tahun terperangkap dalam “kolonialisme”. Hugo Chavez datang dari kalangan bawah, menggulingkan dominasi elite putih, dan berhasil membawa perubahan bagi Venezuela. Terlepas dari sistem yang ia gunakan dalam pemerintahan, Chavez berhasil mewujudkan apa yang menjadi jati diri bangsanya. Baginya, sosialisme adalah cara yang paling tepat untuk memberantas endemik yang terlanjur menyebar dalam tubuh negerinya. Ia berani bermanuver, melakukan gebrakan, dan menentang Amerika Serikat. Semuanya berasal dari mimpi kecil yang berawal dari kekagumannya akan seorang Simon Bolivar, dan ia menemukan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Chavez tidak hanya membawa angin segar untuk rakyat Venezuela, tetapi juga dunia. Ia membuktikan bahwa sosialis bukanlah komunis, dan kapitalis tidak selalu modern dan benar. Ketika masyarakat miskin yang menjadi fokusnya, ia tegakkan tubuhnya, luruskan pandangannya, tegapkan bahunya, siap menjadi tempat mereka untuk bersandar. Barangkali ia berpikir, jika bukan dirinya, siapa lagi? Adalah George Galloway, salah seorang anggota parlemen AS yang tengah berada di Venezuela saat berlangsungnya pemilu presiden pada Oktober 2012. Saat itu, ia tergabung dalam kubu oposisi yang menentang naiknya kembali Chavez ke kursi kepresidenan. Berbulan-bulan setelah itu, ia memaki seorang mahasiswa Oxford yang secara frontal mengatakan bahwa Chavez tidak lain hanyalah seorang diktator. Rupanya, pengalamannya di Venezuela membawa Galloway pada kesimpulan yang 180 derajat berlawanan dengan persepsi awalnya. “Chavez is the most democratic politician on the earth,” ujarnya. Selamat tinggal, Hugo Chavez.

Indonesia tidak membutuhkan seorang Hugo Chavez. Indonesia membutuhkan seseorang dengan semangat yang sama. Tanpa kita sadari, perlahan-lahan, kapitalisme telah merasuki seluk beluk kehidupan kita. Hasilnya? Distribusi pendapatan makin timpang, kesejahteraan rakyat dinomorduakan. Dan anehnya, kita semua masih diam. Indonesia tidak dibangun untuk wadah kapitalisme maupun sosialisme. Indonesia dibangun dengan nilai dan cita-cita yang luhur, Pancasila. Sayangnya, konsep Pancasila hingga abad ini hanya sampai kepada lima nilai yang wajib dihafalkan sejak sekolah dasar. Jangankan diaplikasikan dalam sistem ekonomi ataupun pemerintahan, apa yang disebut “pengamalan sehari-hari” saja masih terlupakan. Pengaplikasian yang masih tabu itulah yang membuat kita harus mengakui, nilai-nilai Pancasila, mau tidak mau, disengaja ataupun tidak, pasti akan menjurus ke salah satu dari dua aliran ekstremis: kapitalis atau sosialis. Mana yang terbaik untuk bangsa?

Tidak ada yang salah dengan galau memikirkan nilai, kepanitiaan, atau pacar sekalipun. Bukankah memang begitu normalnya anak muda? Namun, alangkah lebih baiknya jika Anda menambah satu lagi alternatif bahan penggalauan: negara ini, Indonesia.

Bangsa ini sedang sekarat, kawan.